“Ahad itu maunya jam 10.20, reschedule sore. Sorenya belum dapat kepastian. Akhirnya reschedule lagi hari Seninnya jam 10.20, reschedule lagi. Sorennya belum dapat kepastian. Pagi ini alhamdulillah,” ujar Abdurrahim.

Menurutnya, informasi mengenai kondisi penerbangan diperoleh melalui agen ticketing tempat ia membeli tiket.

Gangguan tersebut juga membuatnya harus mengeluarkan biaya tambahan, untuk penginapan dan kebutuhan sehari-hari selama menunggu kepastian penerbangan.

“Kalau penginapan terus biaya keseharian kan kita pasti nambah,” katanya.

Abdurrahim mengatakan, dirinya sebenarnya ingin segera pulang karena rumahnya berada di Bandung. Terlebih, ia mengaku sedang dalam kondisi kurang sehat, setelah menjalani pekerjaan.

“Kerja dalam kondisi sakit kan pengennya cepat pulang ketemu keluarga, tapi ya gimana lagi, alam,” tuturnya.

Meski demikian, ia memahami kondisi tersebut sebagai situasi di luar kendali maskapai maupun pengelola bandara.

“Ya namanya bencana kan, force majeure,” tuturnya.

Sementara itu, Stephanus mengatakan selama gangguan penerbangan, terdapat penumpang yang memilih menginap di sekitar Bandara Syamsudin Noor.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, sejumlah hotel berbintang di sekitar bandara mengalami tingkat okupansi yang cukup baik selama periode tersebut.

“Informasi yang saya dapat, hotel berbintang juga okupansinya lumayan,” katanya.

Dengan kembali beroperasinya Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Internasional Syamsudin Noor terus memantau perkembangan penerbangan dan kesiapan maskapai, guna memastikan pelayanan kepada penumpang kembali normal. (Wartabanjar.com)