Kabut Asap Masih Pekat, SMPN 15 Banjarbaru Pilih PJJ Hingga Jumat, MBG Terhenti Sementara
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terasa di kawasan SMPN 15 Banjarbaru, di Jalan Bandara Syamsudin Noor, Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru.
Kondisi tersebut membuat sekolah memilih menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), demi menjaga kesehatan para siswa.
Kepala SMPN 15 Banjarbaru, Herry Tryman SPd, mengatakan keputusan PJJ diambil setelah pihak sekolah terlebih dahulu melakukan survei kepada orang tua siswa.
Hasilnya, mayoritas orang tua memilih agar pembelajaran sementara tetap dilakukan dari rumah.
“Berdasarkan harapan orang tua, yang terbanyak menginginkan masih PJJ,” ujar Herry saat ditemui Kamis (03/09/2026).
Menurutnya, keputusan tersebut juga mempertimbangkan kondisi udara di sekitar sekolah, yang hingga kini masih terasa pekat.
“Di sini memang udaranya masih terasa pekat, terutama di wilayah SMP 15. Jadi mau tidak mau kami harus mempertimbangkan kesehatan anak,” jelasnya.
Penerapan PJJ di SMPN 15 Banjarbaru untuk sementara dilakukan hingga Jumat (04/09/2026) sesuai edaran yang berlaku.
Namun, sekolah masih melihat perkembangan kondisi udara dan situasi karhutla sebelum menentukan pola pembelajaran berikutnya.
Baca Juga: Tak Hanya Padamkan Karhutla, Petugas di Guntung Damar Banjarbaru Juga Dapat Perhatian Medis
Baca Juga: Rumah Kosong di Depan JPOK ULM Banjarbaru Terbakar, Api Sempat Membesar
Pasalnya, sejumlah orang tua juga mulai berharap anak-anak kembali belajar langsung di sekolah.
Mereka mengaku cukup kesulitan mendampingi anak selama PJJ, terutama bagi orang tua yang harus bekerja.
“Orang tua juga mengharapkan pembelajaran tatap muka (PTM) karena sekolah lain sudah melakukan. Mereka kelimpungan juga mengurusi anaknya di rumah,” ungkap Herry.
SMPN 15 Banjarbaru saat ini memiliki 15 kelas berisi 466 siswa, dengan jumlah guru dan karyawan sebanyak 35 orang.
PJJ juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi sekolah. Tidak semua siswa dapat mengikuti pembelajaran daring secara maksimal.
Salah satu kendala yang ditemui adalah siswa tidak aktif mengikuti pembelajaran, karena orang tua harus bekerja dan tidak dapat mendampingi mereka di rumah.