WARTABANJAR.COM, BARABAI – Kualitas udara di Hulu Sungai Tengah (HST) mulai membaik.

Sebelumnya kualitas udara mencapai angka 380 atau masuk kategori berbahaya, indeks standar pencemar udara (ISPU) kini turun menjadi 123 atau kategori tidak sehat.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan Dinas Pendidikan HST untuk kembali menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka mulai Rabu (2/9/2026).

Kepala Dinas Pendidikan HST Muhammad Anhar mengatakan, kebijakan itu berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, mulai PAUD, SD, SMP hingga pendidikan nonformal PKBM/SKB, baik negeri maupun swasta se-Kabupaten HST.

“Mulai Rabu, 2 September 2026 pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan. Ini berdasarkan pemantauan kondisi ISPU yang sudah turun signifikan, dari 380 menjadi 123,” ujar Anhar, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga Menhut Sebut Hotspot Karhutla Kalimantan Turun, Tiap Hari Ditagih Data oleh Seskab Teddy

Baca Juga Arsitek Kalsel Minta Jangan Tunggu Makan Korban Soal Rencana Pemko Banjarmasin Periksa Jembatan Tua

Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat. Karena itu, Anhar menegaskan, pembukaan kembali sekolah tidak berarti seluruh kegiatan bisa berlangsung seperti kondisi normal.

“Sekolah dibuka kembali dengan kewajiban penerapan protokol perlindungan kesehatan. Seluruh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan wajib mengenakan masker selama berada di lingkungan sekolah,” jelasnya.

Pengaturan juga dilakukan di dalam ruang kelas. Selama proses belajar mengajar, pintu dan ventilasi diminta ditutup untuk mengurangi paparan asap. Sekolah yang memiliki fasilitas pendukung dapat menggunakan exhaust fan maupun alat penjernih udara.

“Untuk ruang kelas, pintu dan ventilasi ditutup rapat saat proses belajar mengajar. Kalau tersedia, bisa difungsikan exhaust fan atau alat penjernih udara,” kata Anhar.

Sementara kegiatan yang dilakukan di luar ruangan, seperti upacara, olahraga lapangan dan ekstrakurikuler, untuk sementara dibatasi atau dialihkan ke dalam ruangan.

Menurut Anhar, perhatian juga perlu diberikan kepada siswa yang memiliki kondisi rentan terhadap gangguan pernapasan.

“Anak atau warga sekolah yang punya riwayat asma, ISPA maupun gangguan pernapasan lainnya perlu dipantau. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berkala,” ujarnya.