Pada video yang tidak disukai, aktivitas dACC tidak berbeda signifikan dari kondisi normal, sedangkan dlPFC tetap mengalami penurunan meski lebih kecil. 

Sebagai pembanding, area visual utama otak atau V1 justru aktif saat menonton kedua jenis video. 

Hal ini menunjukkan perubahan yang ditemukan bukan sekadar akibat peserta sedang menonton video, melainkan lebih spesifik terjadi pada wilayah yang berkaitan dengan kontrol kognitif.

Peneliti kemudian melihat apakah kondisi neurokimia di otak berkaitan dengan perubahan tersebut. 

Sebelum pemindaian, mereka mengukur kadar glutamat dan GABA di dACC. Hasilnya, peserta dengan kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil saat menonton video, baik yang disukai maupun tidak disukai.

Kadar glutamat juga berkaitan dengan aktivitas dlPFC ketika peserta menonton video yang tidak disukai. Sementara itu, kadar GABA tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan aktivitas dACC maupun dlPFC.

Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara dACC dan dlPFC meningkat selama peserta menonton video. Peningkatan tersebut lebih kuat ketika peserta menonton video favorit. 

Menurut peneliti, pola ini kemungkinan mencerminkan perubahan ke pemrosesan yang lebih otomatis, dan membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif ketika seseorang menikmati konten yang menarik. 

Kondisi tersebut tidak sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan kontrol kognitif seseorang sedang terganggu. 

Peserta tetap aktif mengevaluasi konten, terlihat dari kebiasaan mereka melewati video yang tidak menarik. 

Seperti dihimpun Kompas.com dari Rath Biota Clan, Minggu (23/08/2026), peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan kondisi flow yang sebelumnya juga ditemukan dalam pengalaman menikmati film atau bermain game, ketika seseorang sangat terserap dalam aktivitas sehingga pemantauan kognitif menjadi lebih rendah. 

Namun para peneliti menekankan bahwa studi ini tidak membuktikan video pendek merusak otak, atau menurunkan kemampuan konsentrasi dalam jangka panjang.

Penelitian ini hanya mengamati aktivitas otak peserta dalam satu sesi. Para peneliti juga tidak mengukur penggunaan video pendek yang bermasalah atau kecanduan dengan skala khusus.