“Sudah dari 2020-an, sekitar tiga atau empat kali sudah dilaksanakan. Cuma dua atau tiga tahun ini masyarakat memang membludak. Dari kampung sebelah banyak yang datang, bahkan dari kota juga ada datang ke sini menonton karena ada panjat pinang di sungai,” ujarnya.

Nazar berharap kegiatan tersebut terus digelar dengan kemeriahan yang semakin besar. Ia juga berharap dukungan sponsor bertambah sehingga panitia dapat menambah jumlah batang pinang yang diperebutkan.

“Harapannya tahun-tahun selanjutnya bisa dimeriahkan lagi. Kalau banyak sponsor, pinangnya tidak cuma satu. Bisa tiga atau lima,” kata Nazar.

Bagi peserta, mencapai puncak batang pinang bukan perkara mudah. Batang yang licin membuat mereka harus mengandalkan kekuatan dan kekompakan tim.

Riski mengatakan ia bersama Budi mendapat posisi di bagian atas dan menjadi peserta terakhir yang naik. Sementara peserta lainnya menjadi tumpuan dari bawah.

“Saya sama Budi di bagian atas, jadi kami yang terakhir naik. Yang di bawah harus kuat karena jadi tumpuan. Kalau sudah sampai atas, kami ikat tali atau kain untuk pegangan dan pijakan supaya bisa naik lagi,” kata Riski.

Menurut Riski, batang pinang yang licin menjadi salah satu tantangan. Namun, tali yang dipasang pada batang cukup membantu peserta mempertahankan pegangan saat menuju puncak.

“Batangnya memang licin, tapi talinya cukup kuat untuk dipegang,” ujarnya.

Bagi Riski, ada satu hal yang membuat peserta tidak terlalu khawatir ketika kehilangan pijakan. Mereka langsung jatuh ke air sehingga masih bisa kembali mencoba.

“Kalau jatuh ke air tidak terlalu sakit, jadi masih bisa mencoba lagi hingga puncak,” katanya.

Malam itu, satu batang pinang di tengah sungai berhasil mengumpulkan warga dalam satu tempat. Anak-anak, orang dewasa, hingga warga dari luar desa ikut menyaksikan perjuangan para peserta.

Sorak penonton pecah setiap kali para peserta berhasil naik, lalu disambut tawa ketika ada yang kehilangan pijakan dan tercebur ke air.