Air yang dialirkan selanjutnya diteruskan secara estafet oleh petugas Dinas Kehutanan untuk membasahi area hutan lindung. Dengan demikian, kawasan tersebut diharapkan tidak mengalami kekeringan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

“Konsepnya air dari irigasi dan saluran pembuang kami angkat atau alirkan menuju hutan lindung. Setelah itu teman-teman kehutanan melanjutkan pembasahan ke area hutan lindung,” terang Herry.

Herry menambahkan, keterlibatan PUPR dalam penanganan Karhutla lebih difokuskan pada penyediaan infrastruktur pengendalian air dan memastikan ketersediaan debit untuk mendukung kegiatan pembasahan.

Untuk mendukung operasional di lapangan, PUPR Kalsel juga mendirikan satu posko utama dengan dua tenda di ujung Jalan Makmur, Kota Banjarbaru. Lokasi tersebut berada berdampingan dengan saluran air yang menjadi salah satu sumber suplai menuju kawasan hutan lindung.

Upaya pengendalian air di kawasan tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. PUPR Kalsel membangun sejumlah pintu pengatur atau tabat pada jaringan saluran yang berada di sekitar kawasan hutan lindung.

Infrastruktur tersebut kini kembali dimanfaatkan untuk mendukung pencegahan Karhutla melalui pembasahan kawasan rawan kebakaran.

“Jadi kami menyiapkan infrastruktur dan debit air untuk pembasahan. Itu yang selama ini menjadi keterlibatan PUPR dalam penanganan Karhutla,” pungkas Herry.

Melalui sinergi antara PUPR dan Dinas Kehutanan Kalsel, pembasahan kawasan hutan lindung akan terus dilakukan selama kondisi kemarau berlangsung, sebagai langkah antisipasi untuk menekan potensi meluasnya Karhutla di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya. (Wartabanjar.com)