WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN -  Kebakaran di Kota Banjarmasin, yang menghanguskan belasan lapak di sejumlah pasar seperti Pasar Teluk Dalam dan Pasar Baimbai di Kelayan Timur serta beberapa rumah warga beberapa hari terakhir, bukan  sekadar musibah kobaran api yang melalap bangunan.

Peristiwa tersebut harus dilihat lebih luas, yang erat kaitannya dengan masalah struktural tata ruang dan kerentanan lingkungan terbangun atau build environment. 

Hal tersebut ditegaskan Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Selatan (Kalsel), Inu Kencana Hadi, M.Sc, Rabu (12/8/2026).

Baca juga: Perumda Pasar Banjarmasin Janji Bangun Kembali Lapak Terdampak Kebakaran Pasar Teluk Dalam

Menurut Inu, kegagalan struktural tata ruang berarti struktur dan pengaturan ruang suatu kawasan tidak mampu mengantisipasi, mengurangi, atau mengendalikan risiko kebakaran. 

Hal tersebut, terang Inu, bukan berarti struktur bangunannya yang gagal, tetapi struktur ruang kawasannya yang bermasalah sehingga kebakaran rawan terjadi. 

Sedangkan kerentanan lingkungan terbangun meliputi bangunan, jalan, fasilitas umum, utilitas, infrastruktur, jaringan pelayanan, tingkat kemudahan bangunan dan elemen fisik kawasan, ungkap Inu, mengalami kerusakan atau memperbesar dampak ketika kebakaran terjadi. 

Baca juga: Narkoba dan Balap Liar Jadi Catatan Jurnalis untuk Kapolresta Banjarmasin

Inu pun menyoroti masalah tata ruang Kota Banjarmasin yang dinilainya kacau balau.

"Dewasa ini, Kota Banjarmasin dipandang sebagai kota yang cukup semrawut, yang dibuktikan dengan padatnya pertumbuhan permukiman yang tak mengindahkan tata ruang kota," kata Inu. 

"Di lapangan, sumber pemicu kebakaran di area permukiman di Banjarmasin biasanya hubungan arus pendek listrik karena pengkabelan yang buruk dan kompor yang menyala, diperburuk dengan bahan bangunan yang terbuat dari kayu, fasilitas pemadaman api yang terbatas dari pemerintah kota, dan kesulitan pemadam kebakaran mengakses area kejadian karena area permukiman yang padat," ungkapnya lagi. 

Indikasi tingginya kepadatan lingkungan terbangun di Banjarmasin, kata Inu, dapat dilihat dari data Google Open Buildings.