Begal Payudara di Banjar, Psikolog Ungkap Dampak yang Bisa Dialami Korban
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Kasus begal payudara yang kembali terjadi di kawasan Cindai Alus-Sungai Sipai, Kabupaten Banjar, tak hanya menyisakan persoalan hukum.
Aksi pelecehan seksual tersebut juga dapat meninggalkan dampak psikologis bagi korban. Rasa takut, cemas hingga trauma bisa muncul setelah korban mengalami kejadian serupa.
Bahkan, pada kondisi tertentu, pengalaman tersebut dapat membuat perempuan merasa tidak aman untuk beraktivitas di luar rumah.
Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus Psikolog, Rika Vira Zwagerry menjelaskan, begal payudara secara psikologis tidak bisa langsung disebut sebagai kelainan atau gangguan mental pada pelakunya.
”Begal payudara itu adalah salah satu bentuk pelecehan seksual. Pelecehan seksual merupakan bagian dari kekerasan seksual,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (08/08/2026).
Menurut Rika, kemungkinan adanya gangguan pada pelaku tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Sebab, tidak semua orang yang melakukan tindakan tersebut dapat langsung dikategorikan mengalami gangguan mental.
Baca Juga: PMR Kabupaten Banjar Digembleng Pertolongan Pertama, 125 Peserta dari 25 Sekolah
Baca Juga: Begal Payudara Kembali Terjadi di Martapura Kabupaten Banjar, Santriwati Makin Waswas Melintas
”Bisa jadi pelaku memiliki gangguan. Itu membutuhkan asesmen lanjutan,” katanya.
Terlepas dari kondisi pelaku, dampak terhadap korban menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
Kekerasan seksual dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang dengan tingkat dampak yang berbeda-beda.
”Korban bisa mengalami cemas, ketakutan, stres, bahkan pada level yang lebih tinggi bisa mengalami depresi dan trauma,” jelasnya.
Rasa takut tersebut juga dapat semakin kuat ketika kejadian serupa terjadi berulang.
Korban bisa mulai menghubungkan aktivitas di luar rumah, dengan kemungkinan kembali mengalami kejadian yang sama.
”Ketakutan untuk keluar rumah itu sebenarnya normal, karena dia khawatir ketika keluar rumah akan bertemu lagi dengan begal,” ujarnya.
Menurut Rika, rasa takut dan waswas setelah mengalami kejadian tidak selalu langsung berarti korban mengalami trauma.
Kondisi tersebut dapat berkembang berbeda, tergantung keadaan psikologis serta dukungan yang dimiliki masing-masing korban.