WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Polres Tabalong terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, dengan melakukan pendampingan kepada kelompok tani melalui pemantauan perkembangan tanaman jagung pakan hibrida di sejumlah wilayah.

Pada Senin (03/08/2026), personel Polsek Haruai dan Polsek Pugaan turun langsung ke lahan pertanian, untuk memantau kondisi tanaman sekaligus memberikan motivasi kepada petani yang terdampak musim kemarau berkepanjangan.

Di Kecamatan Haruai, personel Polsek Haruai melakukan pengecekan lahan jagung pakan hibrida milik Kelompok Tani Sumber Makmur di Desa Seradang RT 05. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan atas arahan Kapolsek Haruai, Ipda Mohammad Faizal Rachman, melalui Kanit Intelkam Aiptu Suroso bersama Bhabinkamtibmas Brigpol Gusti Rizki.

Pengecekan dilakukan pada lahan milik Yaman dan Tukiran yang masing-masing memiliki luas sekitar satu hektare.

Hasil pemantauan menunjukkan tanaman jagung di lahan milik Yaman yang telah berumur sekitar 67 hari tumbuh cukup baik. 

Tinggi tanaman berkisar antara 180 hingga 195 sentimeter dengan sekitar 50 persen tanaman telah berbuah. 

Baca Juga: Harga Cabe Rawit Merah di Pasar Tanjung Turun, Tiga Komoditas Lain Mengalami Kenaikan

Baca Juga: Pemkab Tabalong Distribusikan 915 Bendera Merah Putih ke 12 Kecamatan Sambut HUT Ke-81 RI

Namun, separuh lainnya mengalami gagal berbuah akibat dampak kekeringan. Panen diperkirakan berlangsung pada akhir Agustus 2026.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di lahan milik Tukiran. Tanaman jagung berumur sekitar 60 hari mengalami gagal tumbuh hingga 100 persen. 

Tinggi tanaman hanya mencapai 20 hingga 50 sentimeter akibat cuaca panas dan kekeringan yang berkepanjangan.

Di hari yang sama, Polsek Pugaan juga melaksanakan pengecekan lahan jagung pakan hibrida pascatanam milik BUMDes Desa Pugaan RT 04 yang dikelola Kelompok Tani Sejahtera.

Kegiatan tersebut dipimpin personel Aiptu Kusnadi, Aipda Winaldo, dan Brigpol Ervin F atas arahan Kapolsek Pugaan IPTU Abu Hurairoh.

Lahan seluas satu hektare itu menggunakan bibit jagung pakan hibrida swadaya kelompok tani, dengan kondisi tanah hitam kering berpasir, dan hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan.