Belasan Siswa Atlet Tidak Naik Kelas di SMAN 2 Banjarmasin Momentum Evaluasi Program KKO
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Tidak naik kelasnya belasan siswa atlet di SMAN 2 Banjarmasin langsung menjadi perbincangan publik.
Belasan siswa yang tidak naik kelas itu masuk ke SMAN 2 Banjarmasin melalui jalur KKO (Kelas Khusus Olahraga).
Polemik pun terjadi, namun bagi pengamat Pendidikan dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Reja Fahlevi, permasalahan itu justru bisa dijadikan momentum untuk memperbaiki program KKO.
Kepada Wartabanjar.com, Rabu (22/7/2026), persoalan tersebut seharusnya disikapi secara objektif dan proporsional.
Dalam pandangannya, prinsip utama yang harus dijaga adalah status sebagai atlet tidak boleh menghilangkan kewajiban untuk memenuhi standar akademik yang telah ditetapkan sekolah.
Di sisi lain, lanjut Reja, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan sistem pembelajaran benar-benar mampu mengakomodasi kebutuhan siswa yang harus membagi waktu antara latihan, pertandingan, dan kegiatan belajar.
Baca Juga: Belasan Siswa Atlet SMAN 2 Banjarmasin Tidak Naik Kelas, Orang Tua: Apa Bedanya dengan Reguler?
Dosen kelahiran Banjarmasin 1989 itu juga menegaskan program KKO sejatinya dirancang untuk mengembangkan dua potensi sekaligus, yaitu prestasi olahraga dan akademik.
Karena itu, apabila terdapat siswa yang tidak naik kelas, hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi Bersama.
Bukan bukan hanya terhadap capaian belajar siswa, tetapi juga terhadap efektivitas pembinaan, pendampingan akademik, fleksibilitas pembelajaran, serta koordinasi antara sekolah, pelatih, orangtua, dan dinas terkait.
Ia menyarankan perlu adanya perbaikan jalur KKO sekolah di Kalsel ini, utamanya sikap tegas atau langkah efektif dari pemerintah daerah.
"Pemerintah daerah dan pihak sekolah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program KKO," katanya.
"Jika penyebabnya adalah rendahnya capaian akademik, maka harus dipastikan bahwa siswa telah memperoleh pendampingan belajar, remedial, maupun penyesuaian jadwal yang memadai sebelum keputusan tidak naik kelas diambil," lanjut Reja Fahlevi.