WARTABANJAR.COM, PALANGKA RAYA - Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Iwan Kurniawan kembali menegaskan komitmennya untuk menindak pelaku pembakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Siapa pun yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan akan kami tindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tidak ada toleransi terhadap pelaku yang mengancam keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan," tegas Iwan, Senin (13/07/2026).

Hal tersebut disampaikannya setelah melaksanakan patroli udara bersama Gubernur Agustiar Sabran pada Minggu (12/07/2026).

Patroli dilakukan setelah mengamati perkembangan titik panas melalui aplikasi Sipongi.

Mereka juga melakukan pemantauan bersama Wakil Gubernur (Wagub) Edy Pratowo pada Sabtu (11/07/2026) sore di langit Kabupaten Pulang Pisau.

Sebelum menjabat Wagub, Edy merupakan Bupati Pulang Pisau.

Baca Juga: Temuan Mayat di Sungai Lulut Kabupaten Banjar, Jenis Kelamin Laki-laki

Baca Juga: Pasokan Air Bersih ke Banjarmasin Timur dan Selatan Berkurang, PAM Bandarmasih Ungkap Alasannya

Kapolda juga menegaskan begitu titik api teridentifikasi, seluruh personel Satgas Karhutla yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, harus langsung bergerak melakukan pemadaman.

Sementara itu, Personel BKO Penanganan Karhutla Ditsamapta Polda Kalteng bersama tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pembasahan lahan untuk mencegah api kembali menyala.

Dirsamapta Kombes Pol Viddy Dasmasela, Senin, mengatakan seluruh personel dikerahkan secara maksimal agar kebakaran tidak meluas.

Operasi yang dipimpin Padal BKO Penanganan Karhutla Ipda Hervi Gogor tersebut menyisir seluruh titik api, melakukan pendinginan pada area yang telah terbakar, sekaligus memantau wilayah sekitar untuk mengantisipasi munculnya titik api baru akibat cuaca panas dan kondisi lahan yang kering.

Sedang Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pulang Pisau Herman Wibowo mengungkapkan hasil pemantauan di lapangan menunjukkan masih ditemukan titik api aktif sehingga operasi pemadaman terus dilanjutkan.

Tantangan terbesar mereka adalah karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut diperparah cuaca panas, arah angin yang berubah-ubah, serta terbatasnya sumber air sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.