Maria Ulfah menambahkan, pemilihan tema tersebut didasari oleh kondisi kesehatan mental kaum perempuan saat ini, yang dinilai semakin memprihatinkan akibat tekanan sosial.

"Kenapa kami memilih judul itu? Karena kita melihat kondisi saat sekarang, kesehatan mental terutama bagi kaum perempuan itu sudah semakin memprihatinkan. Jadi melalui kegiatan ini, kami ingin para wanita dapat lebih meningkatkan lagi rasa percaya dirinya, bahwa mereka bisa menerima dirinya apa adanya," lanjutnya.

Melalui pelatihan ini, kaum perempuan diharapkan bisa lebih berani dalam mengekspresikan gagasan dan menyuarakan pendapatnya di ruang publik.

"Kemudian mereka juga berani untuk menyampaikan apapun pendapat mereka. Mungkin saat ini kenapa kaum wanita ini agak tersisih ketika menyuarakan pendapatnya? Mungkin karena budaya patriarki yang ada di kita di Indonesia ini kan masih melekat sekali," urai Maria Ulfah.

Lebih lanjut, Maria Ulfah menyoroti stigma negatif yang kerap muncul ketika perempuan berani bersuara, yang mana sering kali dianggap sebagai tindakan membangkang.

"Jadi ketika kaum perempuan itu berani bersuara, itu dianggap kadang berani melawan. Padahal itu tidak, itu sebuah ungkapan atau ekspresi dari ketidaknyamanan atau rasa apapun yang mereka rasakan, yang harus disampaikan kepada siapapun yang berhak untuk menerimanya," tambahnya.

Menutup keterangannya, Kepala DP3AP2KB Tanah Laut berharap momentum ini mampu memperkuat solidaritas dan saling dukung antarperempuan di Tanah Laut agar terbebas dari rasa rendah diri.

"Harapannya, tentunya sih ini menjadi sebuah momen bagi kaum perempuan khususnya Tanah Laut, untuk saling meningkatkan kolaborasinya, saling meningkatkan dukungan satu sama lain antarkaum perempuan. Jadi tidak ada lagi rasa minder, rendah diri dari kaum perempuan ini ketika mereka saling men-support satu sama lain," pungkasnya. (Wartabanjar.com/Gazali/*)