Dari Ayat 128 di atas ditegaskan tentang kesucian nasab Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku-suku pilihan dari bangsa Arab. Allah juga memberi dua sifat mulia kepada Nabi Muhammad.
Kedua sifat itu merupakan sifat Allah sendiri, yang termasuk di antara “asmaul husna”, yaitu sifat “Ar-Rauf” (amat belas kasihan) dan sifat “Ar-Rahim” (penyayang).
Sedangkan Ayat 129 memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya untuk senantiasa tawakkal kepada Allah.
“Cukuplah Allah bagiku, dan Dia akan menolongku, tidak ada Tuhan yang lain yang disembah, selain Dia, hanya kepada-Nya-lah aku bertawakal dan menyerahkan diri, dan hanya Dialah yang mengatur dan mengurus alam semesta, Dia memiliki ‘Arsy yang Agung.”
Adapun fadhilah kedua ayat itu dapat mendatangkan faedah bagi pengamalnya. Di antaranya dapat menangkal sihir dan guna-guna. Selain itu juga memudahkan segala hajat.
Dalam hadis dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa: “Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut di Subuh dan sore hari sebanyak tujuh kali, maka Allah akan memberi kecukupan bagi kepentingan dunia dan akhiratnya.” (HR Ibnu Sunni 71, Abu Dawud)
Menurut Huriyah Huwaida dalam bukunya yang bertajuk Penuntun Mengerjakan Shalat Dhuha, zikir dua ayat terakhir surah At Taubah sebanyak 7 kali seusai sholat, maka ia akan dimudahkan rezekinya dan kehidupannya.
Selain itu, membaca surah At Taubah ayat 128-129 sebagai zikir pagi dan petang akan menjaga orang yang mengamalkannya dari segala kesusahan dunia maupun akhirat.







