Pasukan asuhan Sébastien Desabre lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.
Mereka sukses menahan Portugal, mengalahkan Uzbekistan, dan menunjukkan disiplin bertahan yang membuat banyak tim besar kesulitan mencetak gol.
Striker Yoane Wissa menjadi ancaman utama lewat serangan balik cepat, sementara kapten Chancel Mbemba memimpin lini belakang dengan pengalaman tinggi.
Di atas kertas, Inggris tetap jauh lebih diunggulkan.
Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, hingga Declan Rice memiliki kualitas individu yang mampu membedakan pertandingan.
Namun pelatih Thomas Tuchel justru meminta anak asuhnya tidak terlena.
Tuchel menilai Kongo memiliki karakter permainan yang mirip dengan Ghana dan Panama, yakni bertahan rapat lalu menyerang balik dengan cepat.
Ia mengingatkan bahwa babak gugur selalu menghadirkan tekanan berbeda, apalagi setelah tumbangnya Jerman dan Belanda secara mengejutkan di fase 32 besar.
Statistik memang memihak Inggris, tetapi pertandingan ini diperkirakan tidak akan mudah.
Banyak analis memprediksi The Three Lions baru bisa memecah kebuntuan bila sabar dalam membangun serangan serta memaksimalkan bola mati.
Dengan kisah “dukun Ghana” yang kini hanya menjadi bumbu menarik perjalanan Inggris di Piala Dunia, fokus utama The Three Lions adalah membuktikan bahwa kualitas sepak bola tetap menjadi penentu utama.
Sebab jika lengah, Kongo siap menciptakan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.







