WARTABANJAR.COM, BANJARBARU- Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengungkap alasan di balik keterlibatan Polri dalam program ketahanan pangan yang kini dijalankan di berbagai daerah.

Penjelasan tersebut disampaikan Kapolda saat sarasehan bersama insan media dan influencer di Auditorium Mapolda Kalsel dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, Selasa (23/6/2026).

Kapolda mengatakan program ketahanan pangan menjadi bagian dari upaya mendukung kebijakan pemerintah yang saat ini menjadi perhatian nasional.

”Pimpinan tertinggi Polri itu adalah Bapak Presiden, sehingga apa yang menjadi program dari Bapak Presiden, ini harus kita laksanakan. Khususnya di bidang ketahanan pangan ini,” ujarnya.

Dari berbagai komoditas yang dikembangkan, jagung dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

”Ternyata jagung ini dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan termasuk anggota saya, anggota Polda,” katanya.

Saat melakukan peninjauan lapangan, Kapolda mengaku menemukan salah satu alasan mengapa banyak petani sebelumnya enggan menanam jagung.

”Ternyata pada waktu itu tengkulak maupun pengepul membeli jagung ketika panen harganya Rp1.800 sampai paling tinggi Rp2.000,” tuturnya.

Harga tersebut dinilai belum mampu menutupi biaya operasional yang harus dikeluarkan petani.

”Sehingga dengan biaya operasional saja itu tidak cukup, membuat masyarakat enggan untuk menanam jagung,” sambungnya.

Untuk mendorong minat petani kembali menanam jagung, Puskopol Polda Kalsel saat itu diminta membeli hasil panen dengan harga yang lebih baik.

”Saya perintahkan Puskopol Polda untuk bisa membeli jagung petani Rp3.600 per kilo dalam kondisi pipil basah,” jelasnya.

Langkah tersebut, menurut Kapolda, mendapat sambutan positif dari para petani.

Ia kemudian menggambarkan potensi keuntungan yang dapat diperoleh dari budidaya jagung.

BACA JUGA: Kapolda Kalsel Soroti Dampak Tekanan Ekonomi Global Mulai Terasa di Daerah

BACA JUGA: Wakapolda Kalsel Berganti, Brigjen Pol Noviar Resmi Menjabat

Dengan asumsi hasil panen mencapai tujuh ton per hektare dan harga jual minimal Rp4.000 per kilogram, petani masih memiliki peluang keuntungan setiap masa panen.