“Jika dihitung berdasarkan jumlah alat pertanian yang ada pada tahun 2026, kebutuhan BBM bersubsidi di Tabalong diperkirakan mencapai sekitar 400 ribu liter dalam satu tahun,” kata Rahmani.

Melalui sistem rekomendasi dan barcode yang terintegrasi dengan BPH Migas, DKP3 Tabalong berharap distribusi BBM bersubsidi dapat berjalan lebih tertib, transparan, dan tepat sasaran.

Ketersediaan BBM untuk operasional alsintan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. (wartabanjar.com/Suhardi)

Editor: Yayu