Pertamax Naik, Para Pedagang di HST Khawatir Daya Beli Masyarakat Menurun
“Biasanya tidak langsung naik hari itu juga, tetapi kalau stok baru datang dengan biaya angkut yang lebih mahal, kemungkinan harga ikut menyesuaikan,” tambahnya.
Sementara itu, dampak kenaikan harga Pertamax juga mulai dirasakan pelaku usaha BBM eceran di Barabai.
Pemilik usaha BBM eceran di Barabai, Riduan, mengatakan kenaikan harga di tingkat pengecer tidak dapat dihindari karena mengikuti harga pembelian di stasiun pengisian bahan bakar.
“Kalau di POM bensin sudah Rp17.000 per liter, otomatis kami juga harus menyesuaikan. Sekarang harga eceran langsung berubah menjadi sekitar Rp18.000 per liter,” ujarnya.
Menurut Riduan, masyarakat sering kali menyalahkan pedagang eceran ketika harga bahan bakar naik.
Padahal, katanya, pedagang hanya menyesuaikan dengan modal yang dikeluarkan.
“Kami juga serba salah. Kalau tidak dinaikkan, modal tidak kembali. Kalau dinaikkan, pembeli mengeluh. Tapi memang kondisinya seperti itu,” katanya.
Ia mengaku sejak kabar kenaikan harga menyebar, banyak pelanggan yang mengeluhkan kondisi tersebut.
Sebagian bahkan mengurangi jumlah pembelian karena menyesuaikan kemampuan ekonomi mereka.
Kondisi itu, menurut Riduan, menjadi sinyal bahwa masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya di tengah meningkatnya berbagai kebutuhan.
BACA JUGA: Harga Pertamax di Pengecer HST Capai Rp19 Ribu, Sopir dan Tukang Ojek Keluhkan Beban Operasional
BACA JUGA: Pertamax Naik Jadi Rp17.000 per Liter, Warga HST Khawatirkan Permintaan Pertalite Meningkat
Riduan menilai kenaikan harga BBM berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian masyarakat.
Selain memengaruhi biaya transportasi, kenaikan harga bahan bakar juga dikhawatirkan mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di pasaran.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga dan memastikan distribusi barang tetap lancar agar kenaikan harga BBM tidak memicu lonjakan harga yang terlalu tinggi di tingkat konsumen.
“Kami berharap harga kebutuhan pokok tetap terkendali. Jangan sampai masyarakat makin terbebani karena harga BBM naik lalu diikuti kenaikan harga barang lainnya,” tutup Riduan. (wartabanjar.com/Adew)
Editor: Yayu