Kepada para mahasiswa dan alumni Kampus Merdeka yang senantiasa menyemangati saya.

Saya juga ingin menyampaikan apresiasi yang khusus, kepada para guru besar di universitas-universitas kita, kepada tokoh-tokoh hukum dan anti-korupsi, yang telah turut prihatin dan bersuara untuk keadilan.

Izinkan saya juga menyampaikan penghormatan saya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, Bapak Joko Widodo, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ibu Megawati Soekarnoputri. Para Presiden Republik Indonesia yang masih bersama kita hari ini. Berkat warisan demokrasi yang mereka perjuangkan, pada hari ini, saya dapat berdiri di hadapan Yang Mulia Majelis Hakim untuk menyampaikan pembelaan saya sebagai warga negara, sebuah hak yang merupakan salah satu pilar paling berharga dari republik yang kita cintai bersama.

Dan tentunya, saya ingin berterima kasih dari lubuk hati terdalam kepada segenap masyarakat Indonesia yang telah mengikuti setiap sidang ini, yang membantu membuka kebenaran dengan caranya masing-masing.

Oleh karena seluruh dukungan dan doa inilah, pada hari ini, saya tidak berdiri sendiri.

Saya dan istri saya memutuskan untuk terbuka dan jujur mengenai situasi saya kepada ketiga putri kami, umur 6, 7 dan 8. Walaupun sulit bagi anak kecil mengerti konsep seperti pengadilan dan penjara, saya ingin membuka mata mereka terhadap apa yang dilalui ayahnya. Sehingga, saat mereka besar, mereka dapat mengerti bahwa pengabdian, kadang butuh pengorbanan.

Di awal masa tahanan, dunia terasa seperti berakhir. Saya sendirian dalam kurungan isolasi, seolah dibuang begitu saja. Kadang kala, saya terbangun tengah malam di rumah tahanan, dan untuk sekejap, saya mengira bahwa ini hanya mimpi buruk, dan sebentar lagi akan dibangunkan istri saya. Tapi, yang saya lihat justru jeruji besi.