Lewat HAKTAWA, Anak-anak Diajak Memahami Proses Produksi Beras
WARTABANJAR.COM, TANJUNG - Perkumpulan Pusaka bersama Fun Time kembali menggelar program Hari Keluarga Tanpa Gawai (HAKTAWA), sebagai upaya mengurangi dampak negatif kecanduan gadget di lingkungan keluarga.
Melalui kegiatan tersebut, keluarga diajak membangun interaksi positif lewat aktivitas kreatif, edukatif, dan rekreatif tanpa penggunaan gawai.
Kegiatan HAKTAWA dilaksanakan di Embung Sawah, Kelurahan Sulingan, Kecamatan Murung Pudak, Sabtu (16/5/2026) pagi.
Baca Juga: Polsek Muara Uya Tabalong Ungkap Judi Domino Qyu-Qyu, Enam Pelaku Diamankan
Baca Juga: Profil Sekda Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar, Meneguhkan Trio Pemimpin Muda di Kota Tua
Peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang tua mengikuti beragam aktivitas, mulai dari seribu langkah mengelilingi sawah, memanen padi secara tradisional, story telling, fun games, hingga sarapan bersama di area persawahan.
Direktur Eksekutif Perkumpulan Pusaka sekaligus Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Firman Yusi, mengatakan program HAKTAWA menjadi momen penting bagi orang tua dan anak, untuk memperkuat hubungan melalui kegiatan edukatif dan proses belajar bersama.
Menurut Firman, tema panen padi dipilih untuk mengenalkan kepada anak-anak tentang proses panjang beras sebelum sampai ke meja makan.
Melalui pengalaman langsung di sawah, anak-anak diharapkan memahami bahwa menghasilkan makanan membutuhkan usaha dan proses yang tidak singkat.
“Kenapa kami mengambil tema panen padi ini, karena utamanya untuk mengenalkan pada keluarga, khususnya anak tentang bagaimana proses makanan yang sampai ke piring makannya. Bagaimana prosesnya ternyata membutuhkan effort yang luar biasa. Ini untuk menumbuhkan penghargaan anak atas makanan yang mereka dapatkan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Firman juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menghargai makanan. Berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, sekitar 40 persen makanan di dunia berakhir menjadi sampah, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan pangan.
Ia menilai peran orang tua sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada anak, mengenai pentingnya menghargai makanan dan menjaga keseimbangan kebutuhan pangan.