12 Bekantan Mati akibat Karhutla di Balimau HSS, BKSDA Kalsel Kerahkan Tim Penyelamat
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Hasil pemeriksaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan sebanyak 12 ekor mati akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kejadian karhutla yang menewaskan hewan langka endemik pulau Kalimantan ini terjadi di di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.
Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna Kepakisan, mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai kejadian tersebut pada Minggu malam, 13 September 2026.
Menindaklanjuti laporan itu, BKSDA Kalsel langsung mengerahkan tim penyelamat satwa (wildlife rescue) ke lokasi pada Senin pagi untuk melakukan pengecekan lapangan.
“Jadi, kabar tersebut kami terima pada Minggu malam, dan Senin paginya kami langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk turun ke lokasi kejadian di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, guna melakukan pengecekan lapangan,” ujar Agus di Banjarbaru, Kamis (17/9/2026).
Baca juga: 29 Rumah Hangus dalam 12 Hari, BPBD dan Damkar HST: Jangan Pakai Stop Kontak Berlebihan
Baca juga: Bangkai Kapal Virgo Masuk ke Kedalaman 29 Meter, Tim Penyelam TNI AL Pasang Tali Tambat
Setibanya di lokasi, tim berkoordinasi dengan aparat desa, kepala desa, dan masyarakat setempat untuk melakukan penyisiran di sepanjang sungai.
Dari hasil pemeriksaan, tim menemukan 12 ekor bekantan yang terdampak karhutla.
Agus menjelaskan, hasil pemeriksaan memastikan bahwa 12 bekantan tersebut mati akibat terbakar.
Bangkai satwa kemudian dikuburkan dengan disaksikan kepala desa dan masyarakat setempat.
“Dari informasi awal, bekantan yang menjadi korban ada 10 ekor. Namun, setelah dilakukan pengecekan lapangan, ternyata ada 12 ekor yang terdampak. Tim pun melakukan pemeriksaan dan memastikan bahwa satwa tersebut benar-benar mati terbakar, kemudian dikuburkan bersama dengan disaksikan oleh kepala desa beserta masyarakat,” jelasnya.
Karhutla tersebut diketahui melanda lahan seluas kurang lebih 9 hektare.
Selain menemukan bekantan yang mati, tim juga menjumpai kelompok bekantan lain yang masih hidup di sekitar kawasan tersebut.