WARTABANJAR.COM, TANJUNG - Harga karet di tingkat petani di Kabupaten Tabalong kini menembus Rp17 ribu per kilogram. Namun kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya memnguntungkan petani, karena produksi lkaret mereka justru mengalami penurunan akibat serangan rontok daun yang terus berulang.

Salah seorang petani karet asal Desa Masingai II, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Agus Martopo, mengaku hasil produksi kebun karetnya turun hingga 40 sampai 50 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Agus, kondisi tersebut dipicu oleh rontok daun yang hingga kini belum memiliki solusi penanganan efektif.

Baca Juga: 5 Tips Pilih Hewan Kurban Idul Adha, Tidak Boleh Cacat

Baca Juga: Sekelompok Siswa SMP Teriaki Pemotor Lewat Trotoar, Warganet Puji Keberaniannya saat Menegur

“Daun rontok setahun terjadi tidak terhitung lagi. Habis rontok kemudian bersemi, nanti setelah baru dua minggu langsung rontok lagi, dan pada daun ada bercak-bercaknya,” ujar Agus pada wartabanjar.com, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, dalam kondisi normal tanaman karet dapat menghasilkan getah hingga 40 kilogram per hektare setiap kali sadap.

Namun akibat rontok daun yang berkepanjangan, produksi kini hanya berkisar 20 kilogram per hektare.

“Kalau kondisi tanaman normal, kulit bagus, pemupukan rutin, dan daun tidak rontok, sekali sadap bisa tembus 40 kilogram per hektar. Sekarang paling sekitar 20 kilogram saja,” katanya.

Akibat penurunan produksi tersebut, kenaikan harga getah dinilai belum memberikan peningkatan pendapatan yang signifikan bagi petani.

“Jadi meskipun harga getah tinggi, hasilnya tetap saja sama seperti waktu harga Rp10 ribu per kilogram dulu, karena produksinya menyusut,” tambah Agus.

Kondisi serupa juga dialami Ardianto, petani karet asal Kecamatan Haruai. Bahkan menurutnya, produksi getah di kebunnya mengalami penurunan lebih besar akibat rontok daun.

“Meski harga tinggi tapi getahnya sedikit, jadi tidak ada bedanya,” ujarnya.

Para petani berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut, termasuk menghadirkan langkah konkret untuk menangani penyakit rontok daun, yang dinilai semakin mengganggu produktivitas kebun karet petani.