Orang Berkurban Dilarang Potong Kuku dan Rambut, Ustaz Adi Hidayat Jelaskan Maknanya

“Maka apa yang berlaku bagi orang yang beribadah haji esensinya bisa didapatkan bagi umat muslim yang tidak berhaji dan beribadah kurban keutamaannya untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.

Kalaupun umat Islam belum mampu berhaji dan berkurban, dapat melakukan amalan lain yakni berpuasa.

“Puasa tersebut adalah Puasa Arafah sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad SAW, yang dikerjakan berbarengan momentum wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah,” ucap Ustaz Adi Hidayat.

Puasa Arafah yang dianjurkan tidak sekadar menahan lapar, haus dan hawa nafsu melainkan juga seperti makna orang melaksanakan wukuf di Arafah yakni bermuhasabah, mengoreksi diri, mengenal kekurangan diri, dan lebih mengenali Allah.

Adapun niat Puasa Arafah adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta’âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Arafah esok hari karena Allah SWT.”

Sementara niat berkurban di Hari Raya Idul Adha adalah:

نويت أن أاضحي للهِ تَعَالى

Nawaitu an udhahhi lillaahi ta’aalaa

Artinya, “Saya niat berkurban karena Allah Ta’ala.”

Bagi yang menyembelih hewan kurban, niatnya adalah:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ

Bismillaahi wallaahu akbaru allaahumma minka walaka – Allahumma taqobbal minni

Artinya, “Dengan nama Allah (aku menyembelih), Allah maha besar. Ya Allah (ternak ini) dari-Mu (nikmat yang engkau berikan, dan kami sembelih) untuk-Mu. Ya Allah! Terimalah kurban dariku” (HR Muslim). (Wartabanjar.com/dwisud)