WARTABANJAR.COM - Akhir pekan tadi, Walt Disney mengumumkan pengunjung Taman Disneyland dan Taman Petualangan Disney California harus menjalani pemeriksaan pengenalan wajah.

Meskipun perusahaan mengatakan menjalani pengenalan wajah sepenuhnya hanya opsional, mereka mencatat wajah mereka tetap terekam meski memasuki taman melalui jalur tanpa sistem pengenalan wajah.

Pengenalan wajah Disney, seperti banyak lainnya, bekerja dengan mengubah gambar wajah orang menjadi nilai numerik, yang kemudian dapat digunakan untuk mencocokkan wajah dalam gambar lain.

Disney mengatakan, nilai numerik ini akan dihapus setelah 30 hari, "kecuali dalam kasus di mana data harus disimpan untuk tujuan hukum atau pencegahan penipuan," rilis mereka seperti dikutip wired.com.

Sistem pengenalan wajah banyak digunakan di seluruh Amerika Serikat dan dunia.

Baca Juga: Jaringan Prostitusi Terbongkar, 70 Pesepak Bola Dunia dan Pembalap F1 Terlibat

Baca Juga: Pemerintah Berduka, Praka Rico Gugur di Lebanon Saat Jalankan Misi Perdamaian PBB

Lembaga penegak hukum sering menggunakan teknologi ini, juga di bandara hingga stadion MLB dan NFL, hingga Madison Square Garden.

Tindakan manajemen Disney ini disinyalir tidak lepas dari maraknya tindak kekerasan yang dilakukan orang-orang di tempat khusus.

Pekan lalu, seorang pria bersenjata mencoba memasuki acara makan malam di White House di Washington DC, saat Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan pejabat administrasi lainnya hadir.

Laporan media, Gedung Putih mengidentifikasi tersangka penembak sebagai Cole Tomas Allen, seorang insinyur dan ilmuwan komputer berusia 31 tahun.

Warga California itu ditangkap di tempat kejadian pada Sabtu pekan lalu dan muncul dua hari kemudian di Pengadilan Distrik Columbia, untuk menghadapi tiga dakwaan federal.

Dia dituduh mencoba membunuh presiden, pengangkutan senjata api dalam perdagangan antarnegara bagian, dan penembakan senjata api selama kejahatan kekerasan. (Wartabanjar.com)