Untuk menjaga agar usaha tetap berjalan dan keuntungan tidak terlalu tergerus, ia pun melakukan penyesuaian pada produk yang dijual.
“Kami menyiasatinya dengan mengurangi isi per bungkus, sekitar 10 sampai 20 gram dari ukuran awal,” jelasnya.
Ia juga menilai, kondisi global seperti konflik di Timur Tengah turut berdampak terhadap harga kedelai di dalam negeri. Pasalnya, bahan baku tersebut sebagian besar masih bergantung pada impor.
Tak hanya tempe, dampak kenaikan harga ini juga dirasakan pada produksi tahu. Namun, Royani terpaksa untuk sementara waktu memilih tidak memproduksi tahu sendiri.
“Sekarang kami hanya menjualkan saja dari rekan, tidak produksi sendiri karena bahan bakunya sama dengan bahan baku tempe,”ujarnya.
Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, sehingga usaha kecil seperti produksi tempe dan tahu tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat. (wartabanjar.com/Suhardi).
Editor Restu







