Tanpa drama, tanpa penjelasan panjang. Hanya satu pesan yang terasa dingin, tapi tajam.
Justru di situlah letak kekuatannya.
Terkadang, orang yang paling terluka bukan yang paling keras bersuara melainkan yang memilih diam, lalu menulis satu kalimat yang cukup untuk menjelaskan segalanya.
Tak butuh waktu lama, unggahan itu langsung memancing reaksi.
Banyak yang bertanya-tanya: Siapa yang dimaksud? Apa yang sebenarnya terjadi?
Namun, Thomas Ramdhan masih memilih untuk diam.
Mungkin, memang tidak perlu menjelaskannya, mengungkapkan orang yang “menusuk dari belakang” itu ke publik.
Karena pesan itu sepertinya bukan untuk dijelaskan ke publik tetapi cukup diketahui oleh orang yang sedang dibicarakan.
Pesan bukanlah sekadar curahan hati. Ia seolah menjadi pengingat bahwa dalam hubungan apa pun baik pertemanan, kerja, maupun keluarga, kepercayaan adalah hal paling mahal.
Sekali rusak, tidak selalu bisa kembali seperti semula.
Dan ketika seseorang akhirnya berbicara, meski hanya satu kalimat, bisa jadi jadi itu adalah puncak dari luka yang sudah lama disimpan. (Wartabanjar/dwisud)
Editor Restu







