WARTABANJAR.COM – Umat muslim di Indonesia biasanya mulai bersiap melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman atau yang dikenal dengan istilah mudik saat Lebaran/Idul Fitri.
Berkumpul kembali dengan keluarga besar, terutama orang tua, dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Fitri jadi tradisi.
Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, termasuk dalam pelaksanaan shalat. Allah SWT berfirman:
وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ
Artinya: “Apabila kamu bepergian di bumi, maka tidak dosa bagimu untuk mengqashar shalat.” (QS An-Nisa: 101)
Ayat di atas menjadi dasar dibolehkannya seorang musafir untuk meringkas (qashar) shalat fardhu yang biasanya berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat.
Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa keringanan qashar hanya berlaku pada shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya. Sementara itu, shalat Subuh dan Maghrib tidak dapat diqashar:
فَيَجُوزُ الْقَصْرُ فِي السَّفَرِ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَا يَجُوزُ فِي الصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ وَلَا فِي الْحَضَرِ وَهَذَا كُلُّهُ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَإِذَا قَصَرَ الرُّبَاعِيَّاتِ رَدَّهُنَّ إلَى رَكْعَتَيْنِ
“Boleh melakukan qashar shalat ketika dalam perjalanan pada shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya, namun tidak boleh pada shalat Subuh dan Magrib, serta tidak boleh dilakukan ketika berada di tempat tinggal (tidak sedang safar). Semua ketentuan ini telah disepakati oleh para ulama. Apabila seseorang mengqashar shalat yang asalnya empat rakaat, maka ia mengembalikannya menjadi dua rakaat.” (Al-Majmu’ Ala Syarh al-Muhadzab [Kairo: al-Muniriyah], vol. 4, h. 322)







