WARTABANJAR.COM, BARABAI – Di tengah hiruk pikuk aktivitas pagi di kawasan Lapangan Dwi Warna Barabai, tepat di depan Kantor Bupati Hulu Sungai Tengah, sosok seorang perempuan dengan bakul jamu di punggungnya selalu menjadi pemandangan khas. Dialah Sikam Mutami (58), penjual jamu gendong yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya pada usaha jamu tradisional.

Perempuan asal Jawa tersebut mulai menekuni profesi penjual jamu sejak tahun 1984. Saat itu, usianya masih belasan tahun. Ia mengikuti sang kakak merantau ke Kalimantan, lalu memberanikan diri berjualan jamu demi bertahan hidup.

Sejak 2024, Sikam rutin mangkal di persimpangan Lapangan Dwi Warna Barabai setiap pagi. Ia mulai berjualan sejak pagi hari hingga sekitar pukul 10.00 WITA. Setelah itu, ia masih melanjutkan aktivitas berjualan di pasar pada sore hari, tetap dengan cara tradisional menggendong jamu.

“Dulu pertama jualan, harga jamu masih lima ratus rupiah per gelas. Sekarang sudah tiga ribu rupiah,” tuturnya saat ditemui, Senin (5/1/2026).

Pendapatan dari berjualan jamu tidak selalu pasti. Dalam sehari, penghasilannya bisa mencapai rata-rata Rp200 ribu, tergantung ramai atau sepinya pembeli. Sikam mengakui, usaha jamu gendong kerap mengalami pasang surut, baik karena daya beli masyarakat maupun naik turunnya harga bahan baku.

Meski begitu, ketekunan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Dari berjualan jamu gendong, Sikam berhasil membesarkan empat orang anak. Salah satunya bahkan telah menyelesaikan pendidikan di bidang kebidanan, sementara anak lainnya kini sudah bekerja.

Seluruh jamu yang dijual Sikam diracik sendiri di rumah. Ia memilih bahan-bahan segar yang dibeli dari pasar, lalu diolah secara tradisional dengan resep yang telah ia pegang puluhan tahun.

Di usianya yang tak lagi muda, Sikam tetap bertahan menjalani profesi yang menuntut tenaga ekstra. Berjalan kaki sambil menggendong dagangan bukanlah hal ringan, namun ia tetap menjalaninya dengan penuh keikhlasan.