WARTABANJAR.COM, SERANG — Indonesia dikenal sebagai negeri yang tanahnya subur, hijauannya tak habis-habis, dan matahari bersinar sepanjang tahun. Singkatnya: surga buat ternak.
Tapi kenyataannya?
Negara ini masih bergantung impor daging. Ironi yang bikin geleng-geleng kepala.
Masalahnya bukan di alam. Bukan di pakan.
Masalahnya justru ada di ujung paling awal: breeding. Dan di titik itu, Indonesia sedang lemah.
“Minat peternak melakukan breeding rendah. Populasi turun terus. Dampaknya: impor makin besar,” ujar Pendiri Ranca Bukit Waru Wangi, Siswono Yudo Husodo, di Serang, Rabu (19/11).
Ia menegaskan, tanpa insentif nyata mulai dari IB gratis, bonus kelahiran, hingga akses penggembalaan Indonesia akan sulit keluar dari lingkaran impor.
“Kalau kita tidak lakukan langkah konkret, populasi tidak akan tumbuh. Itu pasti,” kata Siswono.
Breeding Berpadu Wisata: Waru Wangi Jadi Contoh
Di Bukit Waru Wangi, sistem ranch yang jarang ditemui di Indonesia mulai diterapkan. Di sini kerbau dan sapi dilepas di padang hijau, dengan latar Selat Sunda, Krakatau, dan Pasir Angin.
Sebuah kombinasi yang jarang: healing + edukasi + perbibitan.
Menurut Siswono, inilah arah peternakan masa depan.
“Mayoritas peternak kita masih cut and carry. Sulit bersaing. Yang menang adalah yang bisa produksi murah dan berkualitas. Sistem paling efisien itu ranch.
Dan kerbau? Ini sudah kondisi SOS. Kalau tidak ada langkah tegas, lima tahun lagi kerbau Indonesia bisa punah.”







