Selain masalah konstruksi, warga terdampak juga belum sepenuhnya ditangani. Ia menyebut ada dua toko, satu rumah warga, dan sebuah klinik yang aksesnya terganggu. Bahkan ada tanah milik warga yang ikut tergerus proyek.
“Dari awal mereka berjanji membuat akses sementara untuk warga, tapi sampai sekarang tidak komitmen,” ucapnya.
Keluhan lain yang mencuat adalah kondisi aspal yang sudah terkelupas dan membentuk lubang, padahal jembatan ini baru dibuka pada 31 Oktober lalu.
“Saya langsung WA koordinator lapangan BPJN Kalsel. Jawabannya karena kena tumpahan solar. Masa baru kena tumpahan sudah terkelupas? Berarti kualitasnya rendah,” ujarnya.
Ia khawatir kondisi tersebut menimbulkan kecelakaan, mengingat lubang berpotensi membesar jika tak segera diperbaiki.
“Sekarang masih ukuran sentimeter, tapi kalau dibiarkan bisa jadi meter dan membahayakan pengguna jalan,” katanya.
Mardian juga mengingatkan, bila jembatan masih dalam tahap pemeliharaan, seharusnya tidak dipaksakan dibuka sebelum benar-benar siap.
“Kalau memang belum sempurna, jangan dibuka dulu. Masyarakat di sekitar jembatan inj kecewa sekali,” tuturnya.
Ia berharap BPJN segera melakukan perbaikan tanpa melempar tanggung jawab.
“Koordinator BPJN bilang ini tahap pemeliharaan. Kalau begitu perbaikan harus cepat dilakukan. Jangan sampai nanti yang disalahkan justru DPR Banjarbaru ataupun Pemerintah Daerah,” pungkasnya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu







