Mengetahui insiden ini, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho langsung mendatangi rumah sakit tempat Ezra dirawat. Ia memastikan semua penanganan medis dilakukan secepat mungkin dan berkoordinasi dengan pihak BBKSDA Riau.

“Kami sudah berkoordinasi dengan RSUD dan BBKSDA Riau untuk langkah darurat serta pencegahan konflik satwa di masa mendatang,” ujar Agung.

Pemerintah Kota Pekanbaru kini tengah menyiapkan rapat koordinasi khusus bersama BBKSDA guna memperkuat langkah antisipasi dan pengamanan di wilayah yang rawan menjadi lintasan satwa liar, terutama gajah sumatera.

Tragedi yang menimpa Ezra menambah panjang daftar konflik antara manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) — satwa langka yang kini semakin terdesak akibat penyempitan habitat dan alih fungsi lahan.

Wilayah Rumbai dan sekitarnya diketahui merupakan jalur migrasi alami kawanan gajah liar, yang sering kali tersesat ke area perkebunan dan permukiman warga.

BBKSDA Riau meminta masyarakat untuk tetap waspada dan segera melapor jika melihat kawanan gajah mendekati permukiman agar dapat segera dilakukan pengamanan.

Kepergian Ezra menjadi pengingat pahit bahwa keseimbangan antara manusia dan alam harus dijaga dengan kesadaran bersama. Konflik satwa liar bukan hanya ancaman ekologis, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang bisa menelan korban tak berdosa.

Semoga kisah pilu Ezra membuka mata semua pihak untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam dan keselamatan manusia di wilayah rawan konflik satwa.(Wartabanjar.com/nurmuhammad)

editor: nur muhammad