BPBD, lanjutnya, telah melakukan kajian daerah rawan bencana untuk mendukung perencanaan pembangunan daerah.
Kajian ini menjadi acuan agar masyarakat tidak membangun di kawasan rawan banjir, pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar tata ruang memperhatikan hasil kajian tersebut.
Selain itu, upaya edukasi kepada masyarakat terus dilakukan, melalui bidang pencegahan, BPBD Kalsel aktif memberikan sosialisasi ke sekolah-sekolah tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk ke sekolah untuk memberikan pemahaman bagaimana bertindak saat banjir, menjaga kesehatan, dan pentingnya tidak panik.
Ia juga menyampaikan rencana apel kesiapsiagaan banjir yang akan dilaksanakan pada pertengahan November. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk unsur TNI/Polri, relawan, dan instansi terkait.
“Koordinasi yang kuat sangat penting. Dengan kesiapan dari provinsi, kabupaten/kota, dan pihak lain, kita harapkan penanganan bencana bisa lebih cepat dan efektif,” katanya.
Rifai juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada namun tidak mudah panik terhadap informasi yang beredar, terutama di media sosial.
“Kalau ada berita tentang banjir atau kenaikan debit air, jangan langsung percaya. Saring dulu informasinya. Kami terus melakukan pemantauan dan akan menyampaikan informasi resmi,” pesannya.
Ia juga berharap curah hujan tinggi tahun ini tidak menimbulkan bencana besar seperti tahun-tahun sebelumnya.







