WARTABANJAR.COM - Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang yang dapat terjadi akibat kondisi cuaca ekstrem beberapa waktu terakhir di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan telah mengaktifkan posko siaga bencana di wilayah-wilayah rawan dan memastikan kesiapan sarana evakuasi serta logistik agar penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

Hal tersebut diungkap Plt Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Gusti Yanuar Noor Rifai.

Baca Juga TERUNGKAP FAKTA BARU! Puluhan Siswa SMPN 33 Banjarmasin yang Diduga Keracunan, Ternyata Belum Meyentuh Menu MBG!

“Kita tetap siaga karena sudah ada pos-pos di masing-masing wilayah. Walaupun belum dalam status siaga darurat seperti sebelumnya, namun koordinasi di lapangan terus dilakukan untuk memantau titik-titik rawan,” ujar Gusti Yanuar dikutip Selasa (21/10).

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini wilayah Kalimantan Selatan mengalami kondisi suhu yang lebih panas dari biasanya, namun juga disertai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta angin kencang.

“Menurut laporan BMKG, curah hujan saat ini tergolong sedang sampai lebat, dan disertai angin kencang. Kondisi panas yang tinggi ini tidak hanya terjadi di Kalimantan Selatan, tapi juga di sejumlah daerah lain seperti Surabaya dan Jakarta,” terangnya.

Untuk memastikan langkah mitigasi berjalan efektif, BPBD Kalsel terus berkoordinasi dengan BMKG serta pemerintah kabupaten/kota dalam memperbarui peta risiko bencana hidrometeorologi secara mingguan. Langkah ini dilakukan agar peringatan dini dapat segera direspons dengan cepat dan tepat oleh petugas di lapangan.

“Pemutakhiran peta risiko dilakukan secara berkala agar penanganan di lapangan bisa lebih cepat dan sesuai dengan kondisi terkini di masing-masing wilayah,” tambahnya.

Selain kesiapan teknis, BPBD Kalsel juga tengah melaksanakan kampanye “Waspada Cuaca Ekstrem” yang melibatkan tokoh masyarakat, relawan, dan media lokal. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong partisipasi aktif warga dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem.