Cegah Keracunan Terulang! 244 Petugas Dapur MBG Banjar Wajib Ikuti Pelatihan Keamanan Pangan Ketat
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA — Pemerintah Kabupaten Banjar bergerak cepat usai insiden keracunan massal yang menimpa 134 siswa beberapa waktu lalu. Sebanyak 244 petugas dari sembilan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) resmi mengikuti Pelatihan Keamanan Pangan Siap Saji, Sabtu (18/10/2025).
Kegiatan ini digagas oleh Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasio (BGN) Kabupaten Banjar bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, sebagai langkah awal menuju penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh dapur penyedia makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pelatihan dibuka langsung oleh Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, H. Ikhwansyah, yang menegaskan bahwa penyediaan makanan bergizi bagi siswa tak cukup hanya bergizi — tapi juga harus aman dikonsumsi.
BACA JUGA: Fakta Terbaru Kasus Keracunan MBG di Martapura! Dokter Gizi: “Bukan Menunya yang Salah!”
“SPPG punya tanggung jawab besar memberi makan generasi muda. Tapi manfaat gizi itu hilang jika makanan tidak aman,” ujarnya.
Ia menekankan, satu kesalahan kecil dalam pengolahan bisa berakibat fatal dan meruntuhkan kepercayaan publik terhadap program pemerintah.
“Sertifikasi SLHS bukan sekadar formalitas, tapi jaminan bahwa dapur SPPG bekerja sesuai standar higienitas dan sanitasi yang ketat,” tegasnya.
Dari Teori hingga Praktik di Dapur
Para peserta dibekali berbagai materi penting, mulai dari kebijakan keamanan pangan, deteksi cemaran biologis, hingga praktik langsung pengolahan makanan higienis.
“Keberhasilan pelatihan ini bukan di ruang kelas, tapi ketika disiplin dan kebersihan diterapkan setiap hari di dapur,” kata Ikhwansyah menambahkan.
Langkah ini diharapkan menjadi benteng utama pencegahan keracunan massal, sekaligus memastikan program MBG berjalan lebih aman dan profesional di masa depan.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Nor Ipansyah, menegaskan bahwa pelatihan ini sudah sesuai regulasi nasional dan merupakan bagian dari mitigasi insiden sebelumnya.
“Tujuannya agar para penjamah makanan benar-benar memahami cara mengolah dan menyajikan makanan secara higienis serta aman bagi anak-anak,” ujarnya.