VIRAL! Pria dari Pamekasan Nekat Naik Keranda Dibalut Kain Kafan Sejauh 5 Km, Keinginan Sejak 3 Tahun Lalu
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, PAMEKASAN – Pemandangan tak biasa terjadi di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, pada Senin (25/8/2025). Seorang pria bernama Moh Zaini (52) membuat geger warga setelah meminta dirinya dipikul menggunakan keranda dalam keadaan hidup, lengkap dengan balutan kain kafan.
Ritual Aneh, Jalan Kaki 5 Kilometer
Aksi Zaini bukan main-main. Ia benar-benar berbaring di dalam keranda dan digotong sejauh 5 kilometer layaknya prosesi pemakaman. Namun alih-alih meninggal, ia justru melakukannya dengan penuh kesadaran dan berani membayar warga yang menggotong keranda jutaan rupiah.
Konon, Zaini sudah sejak tiga tahun lalu ingin merasakan pengalaman itu. Baginya, ini adalah refleksi spiritual tentang bagaimana rasanya mati dan menjadi jenazah.
BACA JUGA:MENANTANG WARGA! Prajurit TNI Bunuh Istri di Deli Serdang, Saat Rekonstruksi Malah Acungkan Jari Tengah
“Dia itu sejak tiga tahun lalu sudah ingin naik keranda,” ujar Junaidi, kerabatnya.
Reaksi Warga: Antara Haru, Takjub, dan Ngeri
Momen ini terekam dalam video singkat yang langsung viral di media sosial. Ada yang menilai aksinya sebagai pengingat tentang kematian dan kefanaan hidup, namun tak sedikit pula yang menganggapnya aneh, ekstrem, bahkan menantang norma.
Di salah satu rekaman, ketika keranda dibuka, Zaini memberikan pesan yang membuat bulu kuduk berdiri:
“Hidup dan mati pada akhirnya sama saja, baik orang kaya maupun miskin.”
Makna di Balik Aksi Nyeleneh
Fenomena Moh Zaini memunculkan beragam tafsir.
Refleksi eksistensial: Mengingatkan bahwa hidup dan mati hanyalah siklus yang pasti dialami manusia.
Pesan sosial: Menyentil soal kesetaraan—di hadapan kematian, semua sama, tanpa memandang status.
Viral & kontroversial: Membelah opini publik; sebagian menganggap penuh makna, sebagian lain menilainya keterlaluan.
Aksi ini kini jadi bahan perbincangan nasional, bukan hanya karena keunikannya, tapi juga karena pesan moral yang tersirat di baliknya.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad