WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Kasus penganiayaan berdarah di Basirih baru-baru ini kembali membuka mata publik tentang fenomena kriminalitas yang dipicu alkohol di Banjarmasin. Dari kasus penganiayaan dengan samurai, perkelahian antarwarga, hingga tindak kejahatan jalanan, banyak di antaranya bermula dari konsumsi minuman beralkohol.
Alkohol, Pemicu Emosi dan Kekerasan
Menurut pengamat sosial lokal, alkohol kerap menjadi faktor dominan dalam memicu tindakan agresif. Kondisi mabuk membuat seseorang kehilangan kontrol diri, mudah tersinggung, dan akhirnya melakukan tindakan kriminal yang merugikan orang lain.
“Banyak kasus penganiayaan, pengeroyokan, bahkan kecelakaan lalu lintas di Banjarmasin berawal dari konsumsi minuman keras oplosan,” ujar seorang aktivis pemuda Banua yang enggan disebutkan namanya.
BACA JUGA:TERUNGKAP! Penganiayaan Berdarah di Basirih, Pria Luka Ditebas Samurai Diduga Dipicu Alkohol
Data Kepolisian Ungkap Tren Mengkhawatirkan
Meski data resmi berbeda tiap tahun, Kepolisian Resor Banjarmasin pernah mencatat bahwa sebagian besar kasus tindak pidana kekerasan di wilayah kota berhubungan dengan pelaku yang berada di bawah pengaruh alkohol.
Kasus Basirih hanyalah satu contoh. Dalam beberapa bulan terakhir, polisi juga mencatat:
Perkelahian antar pemuda di kawasan Pelambuan akibat minum-minuman keras.
Kasus pembacokan di Kelayan yang bermula dari pesta miras oplosan.







