WARTABANJAR.COM – Sebuah video dari akun Instagram @amyatik1 mendadak viral. Rekaman itu memperlihatkan seorang perempuan menagih utang kepada peserta karnaval yang sedang menari di perayaan 17 Agustus di Banyuwangi. Suasana semula meriah berubah tegang, ketika penagih mendatangi langsung orang yang ia klaim berhutang di hadapan kerumunan penonton.
Kejadian ini sontak memicu beragam reaksi warganet. Ada yang menyebutnya memalukan, namun tak sedikit pula yang menilai wajar, karena mungkin jalur komunikasi pribadi sudah buntu dan penagih kehilangan kesabaran.
Fenomena ini membuka mata kita tentang satu persoalan klasik, hutang yang mudah diucapkan, tetapi sulit dibayar. Hutang sejatinya lahir dari kepercayaan. Ketika janji itu dilanggar, luka yang ditinggalkan tidak hanya pada pemberi hutang, tapi juga merusak ikatan sosial.
Peristiwa di Banyuwangi menjadi gambaran bahwa masalah hutang bukan sekadar angka rupiah, melainkan soal harga diri dan tanggung jawab. Ketika seseorang sampai harus menagih di tengah pesta rakyat, itu berarti sabar sudah habis, dan rasa malu dianggap sebanding dengan rasa kecewa yang dipikul.
Budaya “gampang berhutang, susah bayar” adalah penyakit lama di masyarakat kita. Ia membuat orang makin enggan menolong, karena takut janji hanya tinggal janji. Padahal, kemerdekaan sejati bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari beban janji yang diingkari.(Wartabanjar.com/vri/berbagai sumber)

