WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Keputusan Premier League di Inggris untuk menghapus simbol pelangi dari ban kapten pada musim 2025 mencuri perhatian publik. Sorotan ini muncul bukan karena perubahan desain semata, melainkan lantaran kontroversi dukungan terhadap kampanye LGBTQ+. Sejak 2014, Premier League bekerja sama dengan badan amal LGBTQ+ Stonewall melalui kampanye “Rainbow Laces” yang identik dengan warna pelangi pada ban kapten dan tali sepatu. Namun pada 2025, kemitraan tersebut resmi berakhir sehingga atribut kampanye itu tidak lagi digunakan di lapangan. Beberapa musim terakhir, penolakan terhadap kampanye ini semakin sering terdengar dari para pemain. Alasannya beragam, sebagian menilai kampanye tersebut bertentangan dengan keyakinan pribadi, sementara yang lain menganggap sepakbola seharusnya netral dari isu sosial tertentu. Pengamat sepakbola Inggris, David Conn, menilai keputusan Premier League ini menjadi sinyal pergeseran arah dukungan liga terhadap isu sosial. “Ketika penolakan dari pemain dan suporter semakin besar, liga akhirnya memilih jalan aman,” kata Conn kepada The Guardian, Jumat (8/8/2025). Pihak Premier League menjelaskan bahwa penghentian simbol pelangi bukan berarti menghentikan komitmen pada inklusivitas. “Kami akan terus mengedepankan kampanye anti-diskriminasi, namun dengan pendekatan yang lebih menghormati keragaman pandangan,” jelas perwakilan liga tersebut. Banyak pihak kini menunggu langkah lanjutan Premier League dalam menyeimbangkan kampanye sosial dan kenyamanan seluruh pihak di dunia sepakbola. Bagaimanapun, keputusan ini diyakini akan memengaruhi arah kampanye liga di masa depan. (Berbagai sumber/Aar) Editor: Andi Akbar