Hari Anti Perdagangan Orang 2025: Kemen PPPA & IOM Gaungkan Kampanye “Kita Semua Bisa” Lawan TPPO!
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Dalam rangka memperingati World Day Against Trafficking in Persons, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama International Organization for Migration (IOM) meluncurkan kampanye nasional bertajuk “Kita Semua Bisa”. Kampanye ini nggak cuma jadi simbol perlawanan terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), tapi juga seruan nyata agar semua pihak aktif bersatu, bersuara, dan bertindak demi Indonesia yang bebas dari perdagangan manusia.
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kampanye ini jadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik. “TPPO bukan hanya masalah individu, tapi musuh bersama. Kita semua bisa berkontribusi baik secara individu, komunitas, maupun lintas sektor untuk mencegah dan menangani kejahatan ini,” ujar Arifah. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, media, dunia usaha, organisasi keagamaan, hingga komunitas lokal dalam menghapus praktik eksploitasi ini.
TPPO sendiri merupakan kejahatan lintas negara yang makin kompleks. Nggak cuma menyasar kelompok rentan seperti perempuan dan anak, kini modusnya juga menyentuh kalangan berpendidikan melalui skema penipuan digital mulai dari lowongan kerja fiktif, online scam, hingga janji penghasilan instan. Data SIMFONI PPA menunjukkan dari 2021 hingga Juni 2025, korban TPPO mencapai lebih dari 2.300 orang angka yang diyakini hanya permukaan dari fenomena gunung es yang jauh lebih besar.
Kemen PPPA juga menegaskan bahwa komitmen pemerintah dalam memberantas TPPO sudah berjalan lewat berbagai regulasi, seperti UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO dan pembentukan Gugus Tugas TPPO di berbagai wilayah. “Tapi hukum saja nggak cukup. Kita butuh partisipasi aktif masyarakat dan penguatan kerja sama internasional. Perdagangan orang kini juga melibatkan eksploitasi seksual, adopsi ilegal, bahkan kejahatan siber,” jelas Arifah.
Sebagai bagian dari peringatan, kampanye “Kita Semua Bisa” dikemas dalam format kreatif dan dekat dengan generasi muda mulai dari infografis edukatif, kompetisi, hingga trivia online yang bisa diikuti oleh siapa pun. Semua ini bertujuan untuk menyampaikan pesan bahwa setiap orang punya peran dalam melawan TPPO, melindungi korban, dan mendukung para penyintas agar bisa bangkit kembali.
Peringatan Hari Dunia Anti TPPO tahun ini jadi pengingat bahwa perlawanan terhadap perdagangan manusia bukan sekadar acara simbolis. Ini adalah gerakan kolektif yang harus terus digaungkan. Dengan sinergi lintas sektor, semangat gotong royong, serta keberanian untuk bersuara, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi negara yang bersih dari eksploitasi manusia. Karena pada akhirnya, kita semua bisa jadi bagian dari solusi. (Aar)
Editor: Andi Akbar