Drone Elang Hitam Terbang Perdana
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Pada tanggal 28 Juli 2025, di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sukses menggelar penerbangan perdana drone kelas MALE bernama Elang Hitam. Momen ini jadi tonggak nasional karena Indonesia kini punya UAV andalan yang dicanangkan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pemetaan (ISR).
Spesifikasi Canggih: Terbang hingga 24 Jam, Muat 300 Kg
Drone MALE ini bisa terbang nonstop hingga 24 jam di ketinggian maksimal ~20.000 kaki (sekitar 6.000 meter) dengan muatan hingga 300 kg . Jangkauan operasionalnya mencapai 250 km, kecepatan jelajah hingga 235 km/jam, dan idle weight sekitar 575 kg. Desainnya modular dan memungkinkan pengembangan sistem sesuai kebutuhan misi.
Konsorsium Teknologi: Bersama BRIN, LAPAN, ITB & TNI AU
Elang Hitam dikembangkan oleh konsorsium nasional sejak 2015, dipimpin PTDI bersama BRIN (sebelumnya BPPT), LAPAN, ITB, Kementerian Pertahanan, PT Len Industri, dan TNI Angkatan Udara . Tim ini fokus menguasai teknologi kunci seperti material komposit, flight control, datalink telemetri, sistem propulsi, kontrol otomatis dan integrasi senjata .
Dari Taxii Sampai Uji Terbang Sukses
Sebelum terbang, Elang Hitam telah menjalani serangkaian uji taxi berkecepatan rendah di apron PTDI hanggar Bandung pada 11 Maret 2025. Uji ini disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara sekaligus Komisaris Utama PTDI, Marsekal Mohamad Tonny Harjono. Kini, setelah berhasil jalani first flight di Majalengka, drone ini siap menuju fase sertifikasi resmi.
Ambisi Kemandirian Teknologi & Masa Depan Elang Hitam
Penerbangan perdana ini menandai pencapaian penting dalam kemandirian teknologi pertahanan Indonesia. Elang Hitam bukan sekadar drone tempur, tapi buktikan bahwa talenta lokal bisa menciptakan alutsista kelas dunia. Setelah uji sertifikasi, PTDI menargetkan drone ini masuk rencana strategis nasional (Renstra 2025–2029) dan bisa jadi solusi pengawasan ala militer maupun sipil seperti patroli laut, anti-penyelundupan, hingga pemetaan daerah terpencil. (Aar)
Editor: Andi Akbar