Thailand-Kamboja Nyaris Perang Total! Perundingan Damai Digelar di Malaysia Hari Ini

“Kami bergegas meninggalkan rumah pagi ini,” ujar Maefah (61), warga Thailand di Provinsi Surin yang mengungsi ke pom bensin bersama keluarganya. Ia mengaku trauma dengan dentuman artileri yang terus terdengar bahkan hingga ke Kota Samraong di Kamboja, sekitar 20 km dari garis depan.

Tekanan Internasional dan Intervensi Donald Trump

Perhatian global terhadap konflik ini turut meningkat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut campur melalui pembicaraan telepon dengan kedua pemimpin negara. Trump menyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk “segera menyelesaikan gencatan senjata.”

Lewat unggahan di media sosial, Trump menulis:

“Ketika semuanya selesai dan perdamaian di depan mata, saya berharap dapat menyelesaikan perjanjian dagang dengan keduanya!”

Namun, ia juga memperingatkan akan mengenakan tarif tinggi jika Thailand dan Kamboja gagal mencapai kesepakatan damai secara independen.

Saling Tuduh dan Situasi Kemanusiaan Memburuk

Meski kedua pemerintah menyatakan terbuka terhadap gencatan senjata, perang narasi terus berlangsung. Kamboja menuduh Thailand menyerang rumah sakit sipil dan menggunakan bom curah, sementara Thailand menyalahkan Kamboja karena menembak ke permukiman warga.

“Penghentian permusuhan tidak akan terjadi selama Kamboja sangat kurang beritikad baik,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Thailand.

Sebaliknya, Maly Socheata membantah dan menyebut Thailand-lah yang melakukan agresi secara terkoordinasi.