WARTABANJAR.COM – Konflik bersenjata yang makin memanas antara Thailand dan Kamboja mendorong kedua negara untuk duduk di meja perundingan. Pertemuan perdamaian dijadwalkan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (28/7/2025), di tengah eskalasi yang telah menelan 34 korban jiwa dan memaksa lebih dari 200.000 orang mengungsi dari wilayah perbatasan.
Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, akan bertemu pukul 15.00 waktu setempat. Mediasi akan dipimpin oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang saat ini menjabat Ketua ASEAN.
Konflik berdarah yang meletus sejak Kamis (24/7/2025) itu dipicu oleh sengketa lama atas sejumlah kuil kuno yang berada di perbatasan kedua negara. Pertempuran terjadi di kawasan hutan dan lahan pertanian, melibatkan jet tempur, tank, dan pasukan darat.
Perang Masih Berlangsung, Seruan Damai Dilanggar
Meskipun telah ada seruan damai dari berbagai pihak, bentrokan bersenjata justru kembali terjadi Minggu pagi (27/7/2025) di sekitar dua kuil yang disengketakan.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menyatakan bahwa militer Thailand memulai serangan sekitar pukul 04.50 pagi. Sementara itu, Wakil Juru Bicara Militer Thailand, Ritcha Suksuwanon, menuduh Kamboja lebih dulu menembakkan artileri pada pukul 04.00.
BACA JUGA:Rektorat ULM Banjarmasin Dilalap Api! Data Akademik Nyaris Ludes, Ini Penjelasan Wakil Rektor
“Kami bergegas meninggalkan rumah pagi ini,” ujar Maefah (61), warga Thailand di Provinsi Surin yang mengungsi ke pom bensin bersama keluarganya. Ia mengaku trauma dengan dentuman artileri yang terus terdengar bahkan hingga ke Kota Samraong di Kamboja, sekitar 20 km dari garis depan.
Tekanan Internasional dan Intervensi Donald Trump
Perhatian global terhadap konflik ini turut meningkat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut campur melalui pembicaraan telepon dengan kedua pemimpin negara. Trump menyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk “segera menyelesaikan gencatan senjata.”
Lewat unggahan di media sosial, Trump menulis:
“Ketika semuanya selesai dan perdamaian di depan mata, saya berharap dapat menyelesaikan perjanjian dagang dengan keduanya!”
Namun, ia juga memperingatkan akan mengenakan tarif tinggi jika Thailand dan Kamboja gagal mencapai kesepakatan damai secara independen.







