WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Direktur RSUD Sultan Suriansyah dr. Syaukani menanggapi aksi demonstrasi masyarakat yang berlangsung di depan RSUD Sultan Suriansyah, Senin (7/7/2025). Aksi demo terkait pelayanan dan proses rekrutmen tenaga kerja di RSUD Sultan Suriansyah. Ia menyatakan bahwa pihaknya sangat terbuka terhadap aspirasi masyarakat, terutama jika bertujuan untuk perbaikan layanan. “Kami tentu saja menyambut baik dan menghargai setiap aspirasi yang disampaikan, apalagi jika tujuannya demi kemajuan rumah sakit dan peningkatan pelayanan," ujar Syaukani. Baca Juga Sempat Geger! Warga Banjarbaru Temukan Benda Diduga Proyektil, Ternyata Hanya Potongan Besi "Kami pun berupaya menjalankan tugas sesuai aturan dan bekerja secara profesional,” tambahnya. Ia menambahkan, jika dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan, pihak rumah sakit siap menjadikannya sebagai masukan dan akan melakukan evaluasi serta perbaikan. Terkait proses rekrutmen di RSUD Sultan Suriansyah, Syaukani menegaskan bahwa proses seleksi dilaksanakan secara profesional dan transparan melalui sistem Computer Assisted Test (CAT) yang digelar secara online. “Hari ini kami melaksanakan seleksi dengan sistem Computer Assisted Test (CAT) secara online. Total ada 6.360 pelamar yang mengikuti tes untuk mengisi 33 formasi yang tersedia,” jelas dr. Syaukani. Menurutnya, penggunaan sistem CAT merupakan upaya untuk menciptakan proses rekrutmen yang jujur, adil, dan transparan, di mana seluruh pelamar yang memenuhi syarat dapat langsung mengikuti ujian dan melihat hasilnya secara real-time. “Sistem ini kami bangun bersama Dinas Kominfo Kota Banjarmasin. Mulai dari pendaftaran, pengunggahan berkas, hingga pelaksanaan tes dilakukan secara online," ungkapnya. "Nilainya pun langsung muncul setelah peserta selesai menjawab, sehingga potensi kecurangan sangat kecil,” sambungnya. Selain itu, pelamar bisa memilih unit kerja sesuai dengan minat dan keahliannya, seperti di ruang rawat inap, ICU, dan sebagainya, layaknya proses seleksi CPNS. Demonstran juga menyinggung sejumlah alat medis yang belum difungsikan di RSUD Sultan Suriansyah. Syaukani menjelaskan bahwa tidak semua alat medis bisa langsung digunakan setelah dibeli, khususnya alat yang mengandung radiasi seperti CT Scan dan C-Arm. “Untuk alat-alat tertentu yang berisiko menghasilkan radiasi, harus melalui proses izin dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)," katanya. Proses ini melibatkan uji kelayakan, pemeriksaan potensi kebocoran radiasi, serta verifikasi ruang isolasi yang sesuai standar,” sambung Syaukani. Contohnya, lanjut Syaukani alat CT Scan yang dibeli pernah membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk mendapatkan izin operasional. Bahkan di beberapa rumah sakit lain, proses perizinannya bisa memakan waktu lebih dari satu tahun. “Ini bukan karena kami lambat, tapi memang izinnya berada di luar kewenangan pemerintah daerah. Izin hanya bisa dikeluarkan oleh Bapeten di tingkat pusat setelah melakukan inspeksi langsung,” ujarnya. Syaukani juga menekankan bahwa pihaknya sangat berharap izin bisa segera keluar agar peralatan tersebut bisa segera dimanfaatkan untuk pelayanan medis, seperti dalam prosedur bedah ortopedi yang memerlukan akurasi tinggi dengan alat bantu berbasis radiasi. “Kami sangat mengharapkan dukungan semua pihak, karena yang kami lakukan semata-mata untuk meningkatkan kualitas layanan dan keselamatan pasien,” pungkasnya. (Ramadan) Editor Restu