WARTABANJAR.COM, BARABAI – Harga bawang merah di Pasar Keramat Barabai mengalami lonjakan signifikan pada pekan kedua Juni 2025. Berdasarkan data resmi Dinas Perdagangan HST, per tanggal 10 Juni 2025, harga bawang merah sempat tembus hingga Rp75.000/kg, jauh di atas harga normal yang biasa berada di kisaran Rp38.000/kg. Lonjakan harga ini dirasakan langsung oleh pedagang dan masyarakat. Firman (30), salah satu pedagang eceran mengungkapkan bahwa harga sempat menyentuh Rp75 ribu per kilogram. Baca Juga Warga Kampung Keramat Lega, Pengangkutan Limbah Labkesmas Akan Ditangani Pihak Ketiga “Tiga hari yang lalu harga bawang sampai Rp75 ribu per kilo. Sekarang sudah turun, kita jual sekitar Rp55 ribu. Katanya karena pasokan dari Jawa sempat terganggu gara-gara demo sopir kemaren,” ujarnya saat ditemui tim wartabanjar.com, Kamis (19/6/2025). Senada, Rahmah (32), pedagang lainnya, menyebutkan harga beli bawang dari distributor saat ini berada di angka Rp52 ribu, dan dijual di pasaran Rp55 ribu per kilogram. “Tapi masih fluktuatif, kadang naik, kadang turun,” katanya. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perdagangan HST, Irfan Sunarko, menjelaskan bahwa kenaikan harga bawang merah disebabkan oleh berbagai faktor yang terjadi di daerah sentra produksi. “Berdasarkan informasi yang kami terima, kenaikan ini terjadi karena gagal panen dan banjir di sejumlah daerah penghasil bawang. Sehingga pasokan ke Kalimantan Selatan berkurang. Saat ini, banyak bawang merah yang beredar berasal dari NTB,” ungkap Irfan. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah untuk menstabilkan harga dan menjaga daya beli masyarakat. Termasuk, menggelar pasar murah bekerja sama dengan Bulog, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, serta instansi terkait lainnya. “Pasar murah menjadi salah satu upaya jangka pendek yang kami lakukan agar masyarakat tetap bisa memperoleh bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” lanjutnya. Meski harga mulai berangsur turun, Dinas Perdagangan tetap melakukan pemantauan rutin dan berkoordinasi dengan lintas sektor untuk mengantisipasi gejolak harga ke depannya. (Adew) Editor Restu