FIFA Club World Cup, Turnamen Paling Melelahkan?
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, JAKARTA — Turnamen FIFA Club World Cup 2025 akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah kompetisi antarklub dunia. Sebanyak 32 tim akan bersaing dalam format baru yang panjang dan melelahkan, terutama bagi klub-klub asal Eropa yang harus bertarung di tengah padatnya kalender sepak bola mereka.
Jika sebelumnya turnamen ini hanya diikuti oleh 7 tim dan selesai dalam waktu kurang dari 10 hari, kini FIFA Club World Cup 2025 akan digelar selama satu bulan penuh, dari 14 Juni hingga 13 Juli 2025, dengan sistem yang menyerupai Piala Dunia antarnegara.
Format Baru: Jalan Panjang Menuju Juara
Dalam format anyar ini, 32 tim akan dibagi ke dalam 8 grup berisi masing-masing 4 tim. Dua tim teratas dari tiap grup berhak melaju ke babak 16 besar, lalu dilanjutkan ke sistem gugur hingga final. Tidak ada undian ulang di babak knock-out—seluruh bagan telah ditentukan sejak awal.
Tim yang ingin menjadi juara harus melewati tujuh pertandingan, sama persis seperti format Piala Dunia FIFA sebelum 2026.
Klub Eropa Terbebani, Klub Amerika Teruntungkan
Turnamen yang diselenggarakan di Amerika Serikat ini menguntungkan klub dari benua Amerika, karena berlangsung saat musim kompetisi mereka masih aktif. Sementara itu, klub Eropa datang dalam kondisi lelah, usai menjalani musim panjang yang melelahkan.
“Dengan waktu persiapan yang terbatas dan tekanan fisik yang tinggi, turnamen ini menjadi tantangan berat bagi tim-tim top Eropa,” ujar pengamat sepak bola internasional.
Setelah menjalani final liga, piala domestik, hingga kompetisi Eropa, para pemain hanya memiliki waktu sekitar sebulan untuk istirahat sebelum kembali dipanggil ke pelatnas masing-masing klub.
Hadiah Besar, Tapi Risiko Juga Tinggi
Meski FIFA menjanjikan hadiah uang tunai yang sangat menggiurkan, banyak pihak mempertanyakan urgensi dan keberlanjutan format ini. Selain soal fisik pemain, kalender yang makin padat juga berpotensi menurunkan kualitas permainan dan meningkatkan risiko cedera. (Berbagai sumber/Aar)
Editor: Andi Akbar