WARTABANJAR.COM – Jagat maya diguncang oleh beredarnya sebuah video mengerikan yang menunjukkan dua prajurit dari Unit Brigade Jaeger ke-68 Angkatan Darat Ukraina mengeksekusi tiga tentara Ukraina lainnya di wilayah Shevchenko, arah Pokrovsk, Donetsk. Dalam video yang beredar luas di media sosial, ketiga prajurit tersebut terlihat dipaksa berlutut sebelum ditembak mati oleh rekan satu negaranya sendiri. Diduga, mereka dieksekusi karena mencoba melarikan diri dari garis depan pertempuran. BACA JUGA:45 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha 2025: Penuh Doa, Harapan, Keberkahan untuk Keluarga & Sahabat Peristiwa ini memicu gelombang kemarahan dan kesedihan dari netizen internasional. Reaksi warganet pun beragam, mulai dari kecaman, teori konspirasi, hingga komentar pedas yang mengkritik kepemimpinan Ukraina. Reaksi Netizen yang Membeludak Beberapa komentar yang mencuat di media sosial antara lain: “Kenapa bukan Zelensky aja yang dieksekusi rakyatnya?” “Kemungkinan yang dieksekusi adalah prajurit hasil mobilisasi paksa.” “Bukan propaganda kah ini?” “Mungkin sukarelawan yang ketangkap kabur. Video ini menunjukkan betapa brutalnya perang dan sulitnya menegakkan HAM di garis depan.” “Mengerikan!!” “Kemarin teman sendiri kena drone, sekarang malah ditembak langsung.” “Memilukan... memalukan.” “Lanjutkan 😂😂😂😂” “Sesama Ukraina.” “URAAAA! RIP Ukraina.” “Begitulah dunia pertempuran. Mau menyerah pun sama saja, perjuangan harus sampai mati.” “Itu namanya desersi.” Meski keabsahan video tersebut masih diperdebatkan dan belum dikonfirmasi oleh otoritas resmi Ukraina, banyak pihak khawatir bahwa tindakan seperti ini bisa menjadi cerminan krisis moral dan tekanan mental tinggi di medan perang. Antara Desersi, Mobilisasi Paksa, dan Kekacauan di Garis Depan Dalam situasi peperangan yang semakin intens di wilayah timur Ukraina, laporan tentang mobilisasi paksa, desersi, hingga eksekusi di lapangan semakin sering muncul ke permukaan. Banyak kalangan menilai bahwa tekanan psikologis, kurangnya pelatihan, serta kondisi logistik yang memprihatinkan turut mendorong tentara kehilangan kendali atas nilai-nilai kemanusiaan. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Ukraina mengenai kejadian ini. Namun insiden ini bisa menjadi sorotan tajam bagi dunia internasional terhadap kondisi internal militer Ukraina yang kini tengah berada di bawah tekanan besar dalam konflik berkepanjangan dengan Rusia.(Wartabanjar.com/militarynewsinternational/berbagai sumber) editor: nur muhammad