Setelah 20 Tahun Menghilang, Kucing Merah Kalimantan Tertangkap Kamera di Hutan Liar Borneo, Netizen: "Mau Pelihara Boleh Nggak"
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM – Keajaiban alam kembali terjadi di tengah belantara Kalimantan. Setelah lebih dari dua dekade tak terlihat, kucing merah Kalimantan akhirnya tertangkap kamera di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Utara.
Spesies kucing liar yang sangat langka ini terakhir tercatat pada tahun 2003. Dikenal karena bulunya yang berwarna merah tembaga, kucing ini punya sifat pemalu, aktif pada malam hari, dan berperan penting sebagai predator alami di hutan tropis.
Meskipun ukurannya kecil, keberadaannya krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya, populasi kucing merah Kalimantan diperkirakan kini tinggal kurang dari 2.500 ekor dan telah masuk dalam daftar hewan yang terancam punah.
Ancaman Serius: Deforestasi hingga Perdagangan Ilegal
Kembalinya jejak kucing merah ini disambut haru sekaligus kekhawatiran. Ancaman serius masih mengintai, mulai dari deforestasi akibat pembukaan lahan sawit dan tambang, perburuan liar, hingga perdagangan ilegal satwa endemik.
Namun, harapan masih ada. Tim konservasi kini tengah menyusun strategi perlindungan jangka panjang agar kucing khas Borneo ini tidak benar-benar punah dari muka bumi.
BACA JUGA:VIRAL! Aksi Polisi Bekuk Penjahat di Belakang Gitaris Jalanan Sydney Bikin Geger: “We Are The Champion!”
Respons Netizen: Antara Haru, Takjub, dan Cemas
Penemuan ini viral di media sosial, dan respons netizen pun beragam. Berikut beberapa komentar yang mencuri perhatian:
“Kameramen bintang ⭐”
“Moga lestari.”
“Ih mau pelihara boleh nggak 😍 wkwkwk.”
“Fotonya kurang deket.”
“Sawit dan tambang terus menghilangkan hutan.”
“Item begitu, nggak ada merah-merahnya.”
“Kucing tetaplah kucing… miaww miaww.”
“Yang lain lihatnya merah, apa cuma saya yang lihatnya itu warna hitam, blur lagi.”
“Motonya pakai HP apaan sih?”
“Di Hulu Kapuas masih banyak barang ini...”
“Di Kubar masih ada, pernah lihat.”
“Jika IKN mangkrak, kembalikan hutan yang telah dibabat.”
“Wong ireng ngunu jare merah.”
Temuan ini menjadi pengingat penting akan kekayaan hayati Indonesia yang luar biasa—dan betapa mendesaknya upaya perlindungan ekosistem hutan tropis yang kian tergerus.
Fakta-Fakta Kucing Merah Kalimantan
Habitat kucing merah Kalimantan (Catopuma badia), satu-satunya spesies kucing liar endemik Pulau Kalimantan, tersebar di berbagai jenis hutan tropis yang masih alami. Spesies ini dikenal sangat pemalu dan sulit ditemukan, sehingga informasi tentangnya masih terbatas.
Habitat Alami
Kucing merah Kalimantan mendiami hutan tropis primer, termasuk:
Hutan dataran rendah
Hutan rawa dan gambut
Hutan perbukitan hingga ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut
Beberapa laporan menyebutkan keberadaannya hingga ketinggian 1.800 meter di Gunung Kinabalu, meskipun belum terkonfirmasi. Spesies ini juga sering terdeteksi di dekat sungai atau hutan bakau, menunjukkan preferensi terhadap lingkungan yang lebat dan terpencil .
Persebaran Geografis
Kucing merah Kalimantan tersebar di berbagai wilayah Pulau Kalimantan, termasuk:
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah
Kalimantan Barat
Di luar Indonesia, spesies ini juga ditemukan di Sabah dan Sarawak, Malaysia. Namun, keberadaannya tidak tercatat di Brunei dan Kalimantan Selatan.
Ancaman Terhadap Habitat
Kucing merah Kalimantan sangat bergantung pada hutan yang masih utuh. Sayangnya, deforestasi akibat pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan telah menyebabkan penurunan luas habitat alaminya. Selain itu, perburuan dan perdagangan satwa liar ilegal juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup spesies ini .
Upaya Konservasi
Kucing merah Kalimantan diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah oleh IUCN sejak 2002, dengan estimasi populasi kurang dari 2.500 individu dewasa. Di Indonesia, spesies ini dilindungi oleh peraturan pemerintah, dan secara internasional terdaftar pada CITES Appendix II, yang mengatur perdagangan spesies ini. Namun, minimnya data tentang ekologi, perilaku, dan distribusi menyulitkan upaya konservasi. Penelitian lebih lanjut dan edukasi masyarakat lokal menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini .
Menjaga kelestarian habitat alami kucing merah Kalimantan sangat penting untuk memastikan keberlangsungan hidup spesies langka ini. Upaya konservasi yang melibatkan pemerintah, peneliti, dan masyarakat lokal diperlukan untuk melindungi "si merah misterius" ini dari kepunahan.(Wartabanjar.com/detikcom/researchgate.net/mediaindonesia.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad