GILA! AS Berlakukan Tarif Impor 104% untuk Produk China, Trump Tak Mau Berdialog!

2. Pelemahan Permintaan Ekspor Negara Berkembang

Banyak negara berkembang yang menjadi pemasok bahan baku atau barang setengah jadi ke China kini harus waspada. Jika ekspor China ke AS melambat karena tarif tinggi, maka permintaan dari China terhadap bahan baku juga akan ikut turun. Akibatnya, negara-negara penyuplai seperti Indonesia, Vietnam, dan Malaysia bisa mengalami penurunan ekspor.

3. Potensi Perpindahan Investasi dan Produksi

Di sisi lain, kebijakan ini bisa menjadi peluang. Banyak perusahaan global yang selama ini memproduksi barang di China mungkin akan mulai mencari alternatif lokasi produksi untuk menghindari tarif tinggi. Negara-negara berkembang bisa mengambil peluang ini dengan menarik investasi asing (FDI) sebagai basis produksi baru, asalkan didukung dengan regulasi yang kondusif dan infrastruktur yang memadai.

4. Ketidakstabilan Pasar Keuangan

Ketegangan dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia juga berpotensi mengguncang pasar keuangan global. Ketidakpastian membuat investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan memilih aset yang lebih aman seperti dolar AS atau emas. Hal ini bisa melemahkan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang dan meningkatkan risiko inflasi.

5. Ancaman Perang Dagang Jilid Dua

Dengan China yang diprediksi akan merespons langkah ini, dunia bisa memasuki babak baru perang dagang. Jika ketegangan berlanjut tanpa mediasi yang efektif, maka ekonomi global bisa kembali mengalami perlambatan, sebagaimana yang terjadi pada periode 2018–2019 saat perang dagang pertama antara AS dan China berlangsung.

Kesimpulan:
Tarif 104 persen yang diberlakukan oleh AS terhadap produk China bukan hanya menjadi urusan dua negara, tetapi juga membawa dampak luas terhadap dinamika ekonomi global. Negara berkembang perlu bersikap adaptif, baik dengan memitigasi risiko maupun memanfaatkan peluang yang muncul dari pergeseran peta perdagangan internasional.(Wartabanjar.com/Reuters/CBS News/The Guardian/CNBC Indonesia/Kompas.com)

editor: nur muhammad