Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm yang menyatakan: “Menghidupkan Lailatul Qadar bisa dengan melaksanakan sholat Isya berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah.”
Hadits ini menunjukkan bahwa hadir di sholat osya berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah sudah dianggap sebagai bentuk menghidupkan malam Lailatul Qadar.
Selain itu, terdapat riwayat dari Imam Malik yang disampaikan oleh Ibnul Musayyib:
“Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam lailatul qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam tersebut.”
Hadis ini semakin menegaskan bahwa hadir di shalat berjamaah, khususnya pada malam lailatul qadar, adalah salah satu cara untuk menghidupkan malam tersebut, meskipun tidak melaksanakan sholat malam penuh.
Sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan juga menguatkan keutamaan ini, yang mengatakan:
“Siapa yang menghadiri shalat isya berjamaah, maka baginya pahala sholat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat isya dan subuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.”
Hadis ini sangat jelas menunjukkan bahwa melaksanakan sholat isya dan subuh berjamaah memberikan pahala yang sangat besar, bahkan setara dengan menghidupkan seluruh malam tersebut.
Kiai AMA juga mengingatkan bahwa setiap bentuk ibadah yang dilakukan dengan niat yang ikhlas akan dihargai oleh Allah SWT.
Ia menegaskan bahwa meskipun tidak mampu melaksanakan sholat sunnah atau dzikir panjang, minimal menghadiri sholat Isya berjamaah dan Subuh berjamaah sudah cukup sebagai bentuk usaha untuk menghidupkan malam lailatul qadar.
“Meskipun tidak mampu untuk melakukan sholat sunnah atau dzikir panjang, minimal kita menghadiri sholat Isya berjamaah dan mengikuti tarawih serta sholat subuh berjamaah selama Ramadhan. Maka, kita sudah dianggap menghidupkan malam lailatul qadar meskipun kita tidak merasakannya langsung,” jelas Kiai AMA. (Berbagai sumber)







