WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Masih ramai pembahasan soal Hantavirus, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membeberkan apa saja diagnosis gejala dan masa inkubasinya.
Gejala penyakit Hanta virus biasanya tidak langsung muncul setelah terinfeksi karena masa inkubasinya bervariasi.
WHO menyebut gejala biasanya mulai antara satu hingga delapan minggu setelah paparan.
Untuk Andes virus, CDC menyebut gejala HPS dapat muncul 4 hingga 42 hari setelah paparan.
Rentang ini penting karena pasien dan dokter sering lupa menelusuri paparan tikus beberapa minggu sebelumnya (CDC, 2026a; WHO, 2026a).
Gejala awal sering tidak khas.
Pasien dapat mengalami demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, lemas, pusing, mual, muntah, diare, dan nyeri perut.
Pada fase ini, hantavirus dapat terlihat seperti influenza, dengue, COVID-19, tifoid, leptospirosis, malaria, atau infeksi virus lain.
Kuncinya adalah riwayat paparan: apakah pasien baru membersihkan gudang, rumah kosong, area banjir, kandang, sawah, pasar, kapal, atau tempat dengan banyak tikus?
Diagnosis Banding
Diagnosis banding hantavirus harus disesuaikan dengan sindrom klinis dan epidemiologi setempat.
Di Indonesia, diagnosis banding paling penting adalah dengue dan dengue berat, leptospirosis, tifoid, malaria, influenza, COVID-19, pneumonia virus, pneumonia bakterial, sepsis, rickettsiosis, scrub typhus, infeksi saluran kemih berat, pielonefritis, glomerulonefritis akut, sindrom nefritik, acute kidney injury karena sebab lain, dan demam berdarah virus lain bila ada riwayat perjalanan (WHO, 2026a).
Leptospirosis sering menjadi pembanding terdekat karena sama-sama terkait tikus, banjir, dan lingkungan.
Dengue menjadi pembanding utama karena trombositopenia dan demam akut sangat umum di Indonesia.
Malaria perlu dipertimbangkan di daerah endemis.
COVID-19 dan influenza penting bila gejala respirasi dominan.
Sepsis harus selalu dipikirkan pada pasien dengan hipotensi, laktat tinggi, gangguan kesadaran, atau disfungsi organ.
Kecurigaan hantavirus meningkat bila kombinasi gejala dan riwayatnya cocok: demam akut, nyeri otot, gejala gastrointestinal, paparan rodensia, trombositopenia, hemokonsentrasi, proteinuria/hematuria, kreatinin meningkat, oliguria, atau sesak napas yang memburuk cepat, namun diagnosis pasti tetap membutuhkan pemeriksaan laboratorium spesifik.
Penegakan Diagnosis Pasti
Diagnosis pasti hantavirus ditegakkan dengan kombinasi riwayat paparan, gambaran klinis, pemeriksaan laboratorium rutin, dan uji spesifik.
Riwayat harus menggali paparan rodensia, pekerjaan, lingkungan rumah, banjir, aktivitas membersihkan ruang tertutup, perjalanan, dan kontak dengan kasus yang diketahui.
Pada Andes virus, riwayat kontak dekat dengan orang sakit juga penting (CDC, 2026a; WHO, 2026a).
Pemeriksaan spesifik utama adalah serologi, terutama deteksi IgM hantavirus atau peningkatan titer IgG. RT-PCR dapat mendeteksi RNA virus pada fase akut, terutama ketika viremia masih ada.
Pada situasi wabah atau penelitian, whole genome sequencing dapat membantu karakterisasi strain, menelusuri hubungan antar-kasus, dan membedakan kemungkinan paparan lingkungan bersama dari penularan antarmanusia.







