Dalam kunjungan ini, Haji Isam didampingi Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen Letjen Richard Tampubolon dan Asisten Operasional (Asops) Kodam XVI/Cenderawasih, Brigjen Aulia.
Rombongan Haji Isam diterima jajaran PT Freeport Indonesia antara lain
Claus Wamafma selakuk Director EVP Sustainable Development, Agung Laksamana (EVP External Affairs), Gesang Setiayadi (VP Environment), Lenny Josephine (VP Government Relations), Harry Johansyah (Manager Tailings Utilization).
Turut mendampingi Direktur BBA dan pejabat Dirjen Planologi.
Baca juga:Ribuan Excavator Haji Isam dari China Tiba di Merauke, Ternyata Akan Garap Proyek Ini
Lantas apa itu tailing? Seperti dikutip Wartabanjar.com dari website resmi PT Freeport Indonesia (PTFI), tailing merupakan salah satu volume limbah terbesar di operasi-operasi PT Freeport.
Tailing merupakan sisa air dan bebatuan alamiah di permukaan tanah yang sangat halus setelah konsentrat terpisah dari bijih di pabrik pengolahan.
Proses pengolahan/konsentrat Freeport Indonesia merupakan sebuah proses fisik di mana bijih digerus halus dan mineral yang mengandung tembaga dan emas dipisahkan dari partikel-partikel batuan yang tidak bernilai ekonomi.
Oleh karena topografi istimewa tapak, kegiatan seismiknya, dan curah hujan tahun yang melebihi 10 meter di beberapa lokasi.
PTPI menggunakan sistem pengelolaan tailing yang terkendali via aliran sungai yang mengangkut tailing ke suatu daerah yang ditetapkan di zona dataran rendah dan pesisiran, yang disebut sebagai Modified Ajkwa Deposition Area (Mod ADA).
Daerah pengendapan ini adalah suatu bagian dari bantaran genangan sungai, dan merupakan sistem yang direkayasa, dikelola untuk pengendapan dan pengendalian tailing.
Sistem pengelolaan ini dijalankan di bawah rencana pengelolaan tailing komprehensif Freeport Indonesia, yang disetujui oleh Pemerintah Indonesia setelah melakukan banyak studi teknis dan suatu proses peninjauan ulang secara tahun-jamak.
Sistem ini melibatkan pembangunan struktur penampung lateral, atau tanggul, untuk daerah pengendapan.
Tanggul-tanggul ini belakangan diperluas dan pekerjaan secara terus-menerus dilakukan untuk berbagai perbaikan sistem, termasuk pemeriksaan, pemantauan, dan pembangunan fisik.
PT Freeport secara terus-menerus mengevaluasi dan memutakhirkan rencana pengelolaan tailing untuk meminimalkan risiko.
“Apabila pertambangan berakhir, penelitian kami memperlihatkan bahwa daerah pengendapan ini dapat direklamasi dengan vegetasi alamiah atau dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, kehutanan, atau perikanan. Rata-rata biaya tahunan untuk melaksanakan program pengelolaan tailing ini selama tiga tahun terakhir sekitar 120 juta dolar AS,” demikian pernyataan di website resminya.
Baca juga:Cetak Rekor! Haji Isam Pesan 2.000 Unit Ekskavator dari China Senilai Rp4 Triliun
“Kami telah melaksanakan suatu program untuk mendaur ulang Tailing sebagai bahan campuran beton dalam pembangunan prasarana lokal. Sejak tahun 2007 sampai tahun 2014, bekerja sama dengan pemerintah daerah Propinsi Papua (PEMDA Papua) dan pemerintah daerah Kabupaten Mimika (PEMDA), kami telah menggunakan material Tailing sebagai unsur utama untuk membangun infrastruktur,” ungkapnya.(pwk)
Editor:purwoko







